JAYAPURA, HarianTerbaruPapua.com – Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Papua, Klemens Taran, dan Gubernur Papua, Mathius D. Fakhiri, menegaskan bahwa keikutsertaan Kontingen Papua pada ajang Perkemahan Pramuka Santri Nusantara (PPSN) VI, tidak hanya menjadi ajang membangun karakter dan prestasi, tetapi juga langkah menanamkan kesadaran bahwa menjaga alam adalah bagian dari tanggung jawab dan ibadah. Hal ini disampaikan Kakanwil dan Gubernur, Senin (28/09/2026) di Jayapura, jelang keberangkatan kontingen pada Selasa (29/09/2026). PPSN yang mengusung semangat ekoteologi ini, berlangsung di kompleks Pondok Pesantren An-Nur 2 Al-Murtadlo Malang, Jawa Timur, Rabu (30/09/2026) hingga Selasa (6/10/2026).
Uniknya, Pondok Pesantren An-Nur 2 Al-Murtadlo Malang mengambil posisi sekaligus branding sebagai Pesantren Wisata. Pada laman profilnya tertulis bahwa pesantren ini merupakan pesantren salaf modern bernuansa wisata dengan visi tercetaknya putra-putri kader ulama’ intelektual dan berhaluan Ahlussunnah Wal Jama’ah.
Sebagaimana diketahui, ekoteologi adalah kajian teologi yang menghubungkan iman dan ajaran agama dengan kepedulian terhadap lingkungan hidup. Ekoteologi menjadi salah satu dari 8 program prioritas Kementerian Agama, yang dikenal sebagai Asta Protas.
Kakanwil Klemens Taran menyampaikan bahwa semangat ekoteologi harus diwujudkan melalui tindakan nyata selama para santri mengikuti PPSN.
“Melalui semangat ‘Santri Indonesia Menjaga Alam’, mari kita buktikan bahwa menjaga kebersihan, menghemat sumber daya, menanam pohon, dan merawat lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab dan ibadah kita,” pesannya.
Pesan tersebut sejalan dengan arahan Gubernur Mathius D. Fakhiri kepada Kontingen Papua. Gubernur mengingatkan bahwa PPSN bukan sekadar perkemahan dan perlombaan, melainkan ruang untuk membentuk karakter, kepemimpinan, kemandirian, persatuan, serta kepedulian terhadap sesama dan lingkungan.
Dalam pandangan ekoteologi, kepedulian terhadap alam ditempatkan sebagai bagian dari tanggung jawab manusia. Karena itu, para santri didorong untuk tidak hanya memahami pentingnya kelestarian lingkungan, tetapi juga mempraktikkannya melalui perilaku sehari-hari selama kegiatan.
Gubernur secara khusus berpesan agar para santri mencintai dan merawat bumi, mengurangi sampah, menghemat air dan energi, serta menjadikan kepedulian terhadap alam sebagai bagian dari tanggung jawab dan pengabdian. Pesan tersebut sejalan dengan materi sambutan Gubernur kepada Kontingen Papua.
Kakanwil Kemenag Papua berpesan untuk menjaga nama baik Papua, menjaga kekompakan, menghormati sesama, dan menunjukkan karakter Pramuka Santri yang santun, tangguh, dan peduli.
“Jangan hanya pulang membawa pengalaman, tetapi bawalah nilai, persaudaraan, dan semangat untuk menjaga agama, bangsa, dan bumi,” pesannya.
Selaras dengan itu Gubernur Papua juga mengingatkan para peserta bahwa mereka membawa nama Papua dalam pertemuan Pramuka Santri dari seluruh Indonesia. Karena itu, selain menunjukkan kedisiplinan dan membangun persaudaraan, para santri diminta terus belajar dari setiap pengalaman yang diperoleh selama PPSN.
Pesan-pesan ini dirangkum Kakanwil dalam semangat yang dibawa Kontingen Papua: “Dari Papua untuk Nusantara. Dari santri untuk negeri. Merawat alam sebagai ibadah, menjaga bumi sebagai amanah.”
Mengacu dokumen tentang Pengantar Juklak dan Juknis (Petunjuk Pelaksanaan dan Petunjuk Teknis) PPSN VI Tahun 2026, tema resmi PPSN VI adalah Pramuka Santri Nusantara: Membentuk Karakter, Merawat Lingkungan, Meneguhkan Kebangsaan, dan Berdaya Saing Globa. “Santri Indonesia Menjaga Alam” (SI MALA) adalah identitas dan semangat ekologis PPSN VI, termasuk pada maskot kegiatan. Ekoteologi menjadi prinsip bahkan tertuang dalam aturan bagi peserta selama perkemahan berlangsung. (Rilis)































































































