NABIRE, HarianTerbaruPapua.com – Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Provinsi Papua melakukan monitoring progres revitalisasi PHTC Madrasah di MA Asy Syafiiyah Nabire, Rabu (16/9/2026). Kunjungan tersebut adalah bagian dari rangkaian monitoring pada hari kedua untuk melihat secara langsung kondisi sarana dan prasarana hasil revitalisasi sekaligus mengamati manfaat, dampak, serta kebutuhan lanjutan yang masih dihadapi madrasah.
Kepala MA Asy Syafiiyah Nabire berhalangan hadir karena sedang melaksanakan tugas kedinasan. Tim Pendis Kanwil Kemenag Papua yang terdiri dari Imam Rochimi, Irsan Kuylo dan Ila Irnawati yang pada kesempatan ini didampingi oleh kasie pendis kankemenag nabire, Bahar, berdiskusi dengan Wakil Kepala MA Asy Syafiiyah Nabire, Sujawati, yang menyampaikan kondisi madrasah, manfaat revitalisasi, serta harapan pihak madrasah.
Sujawati menyampaikan apresiasi atas kunjungan monitoring yang dilakukan Kanwil Kemenag Papua. Menurutnya, monitoring ini memberikan kesempatan kepada pihak madrasah untuk menyampaikan kondisi fasilitas secara langsung sekaligus menunjukkan perubahan yang telah dirasakan setelah pelaksanaan revitalisasi.
“Kalau kunjungannya, manfaatnya kita sangat berterima kasih. Apalagi kita bisa melihat langsung keadaan di sekolah dan hasil dari apa yang kemarin dilaksanakan. Alhamdulillah sangat mendukung dan sangat meringankan kekurangan sekolah yang sebelumnya masih banyak,” ujar Sujawati.
Sujawati menjelaskan secara rinci sejumlah fasilitas yang menjadi bagian dari pekerjaan revitalisasi di MA Asy Syafiiyah Nabire.
Untuk pembangunan baru, madrasah memperoleh fasilitas toilet yang diperuntukkan bagi siswa putra dan putri serta toilet guru. Sementara itu, beberapa ruang yang sebelumnya telah tersedia mendapatkan rehabilitasi.
“Kalau yang bangunan baru itu hanya WC putra dan putri, dan di situ ada WC guru juga. Terus yang direhab itu ruangan kelas X, XI, XII, laboratorium, sama kantor,” jelasnya.
Berdasarkan penjelasan tersebut, terdapat delapan ruang yang direhab, selain pembangunan fasilitas toilet baru.
Perbaikan ruang kelas X, XI, dan XII menjadi bagian penting karena ruangan tersebut merupakan fasilitas utama yang digunakan peserta didik dalam mengikuti pembelajaran. Rehabilitasi laboratorium dan ruang kantor juga mendukung kebutuhan madrasah dari sisi kegiatan akademik maupun administrasi.
Salah satu fasilitas yang paling dirasakan manfaatnya oleh siswa adalah pembangunan toilet baru. Sebelum fasilitas tersebut tersedia, siswa harus menuju lokasi lain untuk menggunakan kamar mandi.
“Anak-anak kemarin kalau mau ke kamar mandi itu harus lari ke masjid dulu. Dengan adanya ini, Alhamdulillah, walaupun mungkin ganti-gantian, tetapi Alhamdulillah sudah ada,” ungkapnya.
Di tengah pembenahan sarana dan prasarana, MA Asy Syafiiyah Nabire masih menghadapi persoalan dalam penguatan tenaga pendidik. Madrasah berharap dapat memperoleh tambahan pengangkatan guru tetap agar keberadaan tenaga pendidik dan kegiatan pendidikan dapat terjamin secara berkelanjutan.
“Yang pertama itu permasalahan guru honorer. Sangat kekurangan. Kami kepinginnya itu guru tetap di sini supaya tidak harus lari-lari ke sana kemari,” tuturnya.
“Guru honorer yang sekarang hanya mengajar pada saat ada jamnya. Habis itu sudah pulang. Dia datang pada saat jam dan pulang setelah selesai mengajar. Jadi tidak ada di tempat,” jelas Sujawati.
MA Asy Syafiiyah Nabire saat ini memiliki peserta didik yang tersebar pada kelas X, XI, dan XII dengan jumlah keseluruhan kurang dari 30 siswa.
Sementara itu, jumlah guru yang tersedia mencapai 17 orang. Dari jumlah tersebut, tiga orang berstatus PNS, sedangkan 14 lainnya masih berstatus honorer. Karena itu, pihak madrasah berharap adanya penguatan SDM melalui penambahan guru tetap, baik melalui formasi PNS maupun PPPK sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Selain tenaga pendidik, kebutuhan lain yang disampaikan MA Asy Syafiiyah Nabire adalah pembangunan aula.
Menurut Sujawati, aula diperlukan untuk mendukung berbagai kegiatan madrasah, seperti rapat, pertemuan, dan kegiatan lainnya yang melibatkan guru maupun siswa.
Ketika ada kegiatan bersama, ruang kelas harus dimanfaatkan sebagai tempat kegiatan.
“Selama ini kalau ada kegiatan, misalnya rapat, kami menggunakan ruang kelas. Ruang kelas itu kami buka sekatnya. Jadi kadang kegiatan belajar mengajar tidak ada ruang cadangan,” jelas Sujawati.
“Kalau ada rapat, anak-anak terpaksa belajar di tempat lain. Setelah rapat selesai, kami langsung berkemas, membersihkan dan merapikan ruangan untuk digunakan kembali keesokan harinya,” tuturnya.
“Kami ingin memiliki aula. Mudah-mudahan bisa ada bantuan untuk pembangunan aula dari Kementerian Agama,” harapnya.
Selain sarana pendidikan, Tim Kanwil Kemenag Papua juga mengamati kondisi lingkungan madrasah, termasuk saluran pembuangan air dan risiko genangan ketika hujan. Ia menceritakan pernah terjadi genangan pada malam hari yang mengakibatkan mesin air terendam dan mengalami kerusakan.
Pemantauan di lapangan untuk program revitalisasi madrasah penting karena melihat kondisi hasil pekerjaan sekaligus memperoleh informasi mengenai manfaat dan kebutuhan yang masih ada. Kemenag menempatkan revitalisasi sarana dan prasarana madrasah sebagai bagian dari penguatan mutu layanan pendidikan melalui PHTC.
Aspirasi mengenai kebutuhan guru tetap dan pembangunan aula menjadi catatan penting dari kunjungan kali ini. Harapan itu menunjukkan bahwa revitalisasi sarana pendidikan adalah bagian dari proses yang luas dalam membangun layanan pendidikan madrasah. (Rilis)



























































































