MALANG, HarianTerbaruPapua.com – Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kakanwil Kemenag) Provinsi Papua, Klemens Taran, menyampaikan pesan cinta kemanusiaan dan kerukunan, juga ekoteologis kepada Pramuka Santri Papua. Hal ini disampaikannya seusai mengikuti upacara pembukaan Perkemahan Pramuka Santri Nusantara (PPSN VI) di Pesantren Wisata An-Nur 2 Al-Murtadlo, Malang, Jawa Timur, Kamis (1/10/2026). Pesan Kakanwil tidak hanya berlaku bagi pramuka santri asal Papua yang mengikuti kegiatan, namun juga bagi seluruh Pramuka santri, bahkan santri sebagai bagian dari generasi muda di Papua.
“Ada beberapa pesan sentral yang disampaikan berkenaan dengan kegiatan PPSN ini. Pertama, merujuk pada Asta Protas Menteri Agama, yaitu penguatan terhadap cinta kemanusiaan dan kerukunan. Kemudian yang kedua adalah ekoteologi,” demikian Kakanwil mengatakan.
Menurutnya, hal ini juga sesuai dengan arahan Direktur Jenderal (Dirjen) Pesantren Kementerian Agama RI, Basnang Said, sebagai Pembina Upacara Pembukaan PPSN VI.
“Ada dua hal beliau tekankan, yang kemudian menjadi rujukan untuk diterapkan sampai ke daerah, baik di kantor wilayah maupun di kabupaten/kota, secara khusus bagi sekolah-sekolah keagamaan yang berada di bawah binaan Kementerian Agama.”
Yang pertama, jelas Kakanwil, bahwa lingkungan pondok pesantren harus dijaga agar tetap asri dan bersih.
“Para santri juga diharapkan menjadi duta dalam menjaga lingkungan, sehingga orang yang berada di lingkungan pesantren tidak hanya menemukan suasana yang sejuk, tetapi juga lingkungan yang bersih dan nyaman,” jelasnya.
Yang kedua, para santri juga menjadi duta kemanusiaan. Hal ini dilakukan dengan terlibat dalam mencegah dan melaporkan berbagai tindakan yang merendahkan martabat kemanusiaan, baik yang terjadi di lingkungan belajar, maupun di masyarakat.
“Maka, fokus utama santri adalah, pertama, menjadikan lingkungannya sebagai lingkungan yang asri. Jadi, tidak hanya menghadirkan suasana yang sejuk di ruang belajar, tetapi juga memastikan lingkungan tersebut bersih. Dengan demikian, para santri ketika berada di lingkungan sekolah atau pesantren merasakan suasana yang berbeda,” tegas Kakanwil.
Kedua, lanjutnya menegaskan, santri juga menjadi duta untuk terlibat dan melaporkan segala hal yang merendahkan martabat kemanusiaan, baik yang terjadi di lingkungan belajar maupun di masyarakat.
“Dua hal inilah yang sebenarnya menjadi misi utama dalam PPSN untuk kemudian diterjemahkan oleh setiap peserta ketika kembali ke daerah masing-masing dan menerapkannya,” jelas Klemens Taran.
Selanjutnya, imbuh Kakanwil, sebagaimana pesan Dirjen Pontren, PPSN ini sebenarnya adalah sebuah pesta.
“Selama ini para santri terikat dengan kegiatan belajar dan fokus di ruang-ruang pembelajaran. Di PPSN, ruang seperti ini menjadi kesempatan untuk menjalin kekeluargaan, menumbuhkan kebersamaan, dan membangun interaksi,” kata Kakanwil.
Pada arena PPSN, lanjutnya lagi, tidak ada status yang membedakan, semua sama. Yang ingin dikejar dan ditumbuhkan adalah kebersamaan. Ini merupakan nilai yang dijunjung tinggi dalam kegiatan PPSN.
Sehingga, imbuh Klemens Taran, ketika setiap peserta pulang, mereka membawa ikatan kekeluargaan tersebut untuk kemudian diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan belajar, dalam interaksi, maupun dalam kehidupan sosial.
“Dan selalu kami sampaikan, saya memberikan dukungan penuh terhadap kontingen Papua,” tegas Klemens Taran.
Pertama, ia mengingatkan, ketika kontingen Papua dilepas untuk berangkat ke Malang, dan pataka diserahkan di halaman kantor Kanwil Kemenag Papua, menurutnya itu mengandung doa dan dukungan dari rakyat Papua.
Kedua, sambungnya, terlepas dari persoalan juara kalaupun ada juara, adalah hal untuk disyukuri. Tetapi jika tidak, maka yang harus diperebutkan dan dikejar adalah nilai yang dibawa pulang.
“Nilai kebersamaan dan kekeluargaan itu harus dibawa pulang, karena itulah yang menjadi salah satu ciri yang membedakan pondok pesantren, sekolah-sekolah keagamaan, dan sekolah-sekolah umum lainnya,” pungkas Kakanwil. Ia menggarisbawahi nilai ini menjadi komitmen, bahkan menjadi upaya bersama dalam mengawal seluruh proses pembelajaran di sekolah-sekolah keagamaan di seluruh Papua.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, PPSN VI Tahun 2026 di Pesantren Wisata An-Nur 2 Al-Murtadlo Malang, mengusung semangat ekoteologi, yang juga diterapkan pada seluruh hari kegiatan dan aktivitas keseharian peserta. Tidak berhenti sebagai nilai dan konsep, namun ekoteologi diupayakan sebagai kebiasaan, akhlak dan budaya santri. Lebih jauh, santri diharapkan menjadi bagian dari penjaga kelestarian bumi. (Rilis)































































































