SARMI, HarianTerbaruPapua.com – Di balik jauhnya akses dan sunyinya jalur perjalanan, langkah itu tetap diambil. Bukan karena mudah, tetapi karena ada suara yang harus didengar.
Selama empat hari, 18–21 Maret 2026, anggota DPR Papua, Tulus Sianipar, menapaki perjalanan panjang menuju Kampung Omte, Distrik Tor Atas, Kabupaten Sarmi.
Sebuah kampung kecil yang mungkin tak banyak tercatat dalam peta perhatian, namun menyimpan cerita tentang harapan yang tak pernah padam.
Perjalanan menuju Omte bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan ujian ketekunan. Dari muara Kali Tor, perjalanan dilanjutkan menggunakan speedboat bermesin 40 PK selama kurang lebih satu setengah jam, menyusuri aliran sungai yang menjadi satu-satunya akses.
Di ujung perjalanan itu, sekitar 35 hingga 40 kepala keluarga menjalani hidup dalam keterbatasan, jauh dari hiruk-pikuk kota. Namun justru di tempat seperti inilah makna kehadiran diuji.
Reses Tahap I yang dilakukan bukan semata agenda formal, melainkan pertemuan antara harapan dan kenyataan.
Di setiap perbincangan, masyarakat menyampaikan hal-hal sederhana keinginan untuk didengar, diperhatikan, dan diakui keberadaannya sebagai bagian dari Papua.
Kampung Omte mungkin kecil, jumlah penduduknya tak besar, tetapi nilai sebuah wilayah tidak pernah ditentukan oleh angka, namun ditentukan oleh sejauh mana suara masyarakatnya dianggap penting.
Apa yang dibawa dalam reses ini mungkin tidak besar. Apa yang diberikan mungkin belum mampu menjawab seluruh kebutuhan.
Namun kehadiran itu sendiri telah menjadi pesan kuat bahwa mereka tidak sendiri. Di tengah keterbatasan, perhatian menjadi awal dari perubahan.
Seperti pelita kecil di tengah gelap, dia mungkin tidak menerangi seluruh ruang. Namun cukup untuk menunjukkan bahwa kehidupan tetap menyala, dan harapan masih ada. Dari nyala kecil itulah, semangat tumbuh pelan, namun pasti.
Semangat yang kemudian melahirkan keyakinan bahwa suatu hari nanti, Kampung Omte tidak lagi berjalan sendiri.
Bahwa pembangunan tidak hanya berpusat di kota, tetapi juga menjangkau kampung-kampung yang selama ini terpinggirkan.
Reses ini menjadi pengingat bahwa kehadiran negara tidak diukur dari seberapa sering terlihat, melainkan dari seberapa jauh bersedia menjangkau. Dan di Kampung Omte, pelita itu kini telah dinyalakan. (Redaksi)
































































































