SENTANI, HarianTerbaruPapua.com – Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) daerah pemilihan Papua, Senator Pdt. David Harold Waromi, melakukan kunjungan kerja ke lokasi pelatihan komputer gratis dan pengolahan pangan lokal berbahan dasar sagu di Gedung Serba Guna (GSG) GKI Zoar Abeale, Sentani, Kamis (19/3/2026).
Kegiatan yang diinisiasi oleh Yayasan Bengkel Kerja Papua ini menyasar anak-anak usia sekolah dasar, remaja, hingga pemuda untuk literasi digital. Sementara itu, kaum ibu diberikan pelatihan pengolahan sagu menjadi berbagai produk bernilai ekonomi seperti bakso, kerupuk, mie, es krim, hingga brownies sagu. Pelatihan ini berlangsung selama dua pekan, mulai 9 hingga 20 Maret 2026.
Dalam kunjungannya, Senator David Waromi menyampaikan apresiasi tinggi kepada Yayasan Bengkel Kerja Papua yang telah konsisten selama delapan tahun mencetak ribuan anak Papua yang melek teknologi.
“Saya sudah bersama Bengkel Kerja Papua sejak delapan tahun lalu. Kini, sebagai anggota DPD RI di Komite III yang membidangi pendidikan, saya merasa wajib melihat langsung progres ini. Hasil kunjungan ini akan saya laporkan kepada Bapak Presiden dan kementerian terkait agar program seperti ini mendapat perhatian serius dari pemerintah pusat,” ujar Pdt. Waromi.
Ia menekankan pentingnya penguasaan teknologi sejak dini, termasuk pemahaman mengenai Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan, agar generasi muda Papua mampu bersaing secara global menuju Indonesia Emas 2045.
Selain teknologi, Pdt. Waromi juga menyoroti potensi UMKM berbasis pangan lokal. Ia berjanji akan membantu mempromosikan hasil olahan sagu karya mama-mama Papua hingga ke pasar luar daerah.
“Kedepan, kolaborasi ini tidak boleh berhenti di pelatihan saja, tapi harus dikembangkan menjadi unit usaha yang mendatangkan penghasilan bagi jemaat dan keluarga,” tambahnya.
Sekretaris Yayasan Bengkel Kerja Papua, Reinhard Ramandei, menjelaskan bahwa pendekatan melalui gereja dipilih karena merupakan pusat berkumpulnya masyarakat Papua. Menurutnya, teknologi adalah “sayap kuat” bagi generasi muda untuk meningkatkan harkat dan martabat mereka.
“Pengetahuan saja tidak cukup. Oleh karena itu, peserta juga akan diberikan sertifikat sebagai bukti kompetensi untuk melanjutkan pendidikan maupun memasuki dunia kerja,” kata Reinhard.

Senada dengan itu, Ketua Majelis Jemaat GKI Zoar Abeale Sentani, Pdt. Heldy Harun, menyampaikan apresiasi dan rasa syukur atas kunjungan kerja dari Bapk senator Pdt. David Harold Waromi,yang telah meluangkan waktu memberikan semangat bagi anak-anak,mama-mama warga Jemaat GKI Zoar Abeale sentani,serta pihak Yayasan,ini membuktikan bahawa ada perhatian dari wakil rakyat, agar generasi gereja di Papua, ke depan lebih siap menghadapi tentangan tehnologi,melalui Yayasan bengkel kerja Papua.
Menurutnya, program tersebut merupakan berkat besar bagi jemaat, khususnya generasi muda, mengingat biaya pelatihan komputer pada umumnya dapat mencapai sekitar Rp1,5 juta untuk tiga paket pelatihan.
“Pelatihan ini sangat membantu. Ini merupakan berkat besar bagi jemaat, karena biasanya biaya pelatihan komputer cukup mahal, tetapi melalui program Yayasan Bengkel Kerja Papua diberikan secara gratis,” terangnya.
Ia menambahkan, pelatihan tersebut diikuti sekitar 243 peserta yang terdiri dari pemuda-pemudi, anak-anak hingga beberapa ibu rumah tangga yang memiliki semangat tinggi untuk belajar dan meningkatkan keterampilan di bidang teknologi informasi.
“Ini menjadi kesempatan bagi pemuda-pemudi Papua untuk meningkatkan kemampuan dan mampu bersaing di bidang teknologi,” ujarnya.
Heldy Harun, berharap melalui pelatihan tersebut, beberapa peserta nantinya dapat dipersiapkan untuk membantu pelayanan di gereja, khususnya dalam mengisi kebutuhan tenaga tata usaha di lingkungan jemaat.
Selain pelatihan komputer, Yayasan Bengkel Kerja Papua juga memberikan pelatihan pengolahan pangan lokal berbahan dasar sagu bagi para ibu-ibu di Jemaat Zoar Abeale. Dalam pelatihan tersebut, peserta diajarkan membuat berbagai produk olahan seperti bakso sagu, kerupuk sagu, mie sagu, es krim sagu, hingga kue brownies berbahan dasar sagu.
Program ini diharapkan dapat meningkatkan keterampilan masyarakat sekaligus mendorong pemanfaatan pangan lokal sebagai peluang usaha bagi warga jemaat. (Cornelia Mudumi)

































































































