JAYAPURA, HarianTerbaruPapua.com – Pembimbing Masyarakat (Pembimas) Buddha Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Papua Sarono mengikuti kegiatan Edukasi Pembuatan Eco Enzyme dalam rangkaian Tri Suci Waisak 2570 BE, Kamis (7/5/2026).
Kegiatan yang dilaksanakan secara daring dan luring tersebut merupakan bagian dari implementasi program ekoteologi Kementerian Agama RI yang digelar Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha.
Kegiatan diikuti Pembimas Buddha Sarono, secara virtual melalui Zoom Meeting yang dipusatkan di Ruang Kelas Nava Dhammasekha Lantai 3, Gedung Vihara Numbay Santi Jaya, Entrop, Kota Jayapura, dan melibatkan peserta jajaran Bimas Buddha, penyelenggara Buddha, siswa dan guru Nava Dhammasekha, serta umat Buddha wilayah Kota dan Kabupaten Jayapura.
Direktur Jenderal Bimas Buddha Kementerian Agama RI Supriyadi dalam sambutannya mengatakan bahwa gerakan eco enzyme merupakan bagian nyata implementasi program ekoteologi yang mendorong kepedulian umat terhadap kelestarian alam semesta.
“Hari ini kita memulai sebuah gerakan besar untuk kepedulian terhadap alam semesta. Kita harus menyadari bahwa manusia memiliki keterhubungan dengan alam dan memiliki tanggung jawab menjaga keseimbangannya,” ujar Supriyadi.
Ia menekankan pentingnya pengelolaan limbah organik secara bijak guna mengurangi dampak pencemaran lingkungan, termasuk ancaman gas metana dari sampah rumah tangga.
Sementara itu, Ketua STABN Sriwijaya Tangerang Banten, Edi Ramawijaya Putra menjelaskan bahwa eco enzyme merupakan cairan hasil fermentasi limbah organik seperti kulit buah yang memiliki manfaat untuk membantu menjaga kualitas lingkungan dan ekosistem.
Menurutnya, gerakan tersebut juga menjadi bentuk implementasi ajaran agama dalam menjaga dan merawat alam semesta.
Sarono mengatakan kegiatan edukasi eco enzyme menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pelestarian lingkungan.
“Tujuan kegiatan ini adalah memanfaatkan apa yang sudah tidak terpakai agar tetap bermanfaat bagi lingkungan dan tidak mencemari alam,” ujarnya.
Ia menjelaskan, setelah edukasi pembuatan eco enzyme pada 7 Mei 2026, rangkaian kegiatan implementasi ekoteologi akan dilanjutkan pada 8 Mei 2026 melalui kegiatan perawatan tanaman yang telah ditanam pada tahun sebelumnya.
Selanjutnya, pada 10 Mei 2026 akan dilaksanakan aksi penuangan eco enzyme ke aliran air kali acai sebagai upaya menjaga dan memulihkan ekosistem air yang mulai tercemar.
“Kegiatan ini diharapkan dapat membantu menjaga keseimbangan ekosistem sungai agar kembali normal dan memberikan manfaat bagi lingkungan,” jelasnya.
Melalui kegiatan tersebut, Kanwil Kementerian Agama Provinsi Papua berharap gerakan eco enzyme dapat menjadi kebiasaan positif dalam kehidupan sehari-hari dan mendorong terciptanya budaya hidup ramah lingkungan di tengah masyarakat. (Rilis)
































































































