JAYAPURA, HarianTerbaruPapua.com – Perum Bulog Kantor Wilayah Papua memperkuat strategi penyerapan beras produksi dalam negeri, khususnya di Kabupaten Merauke, Papua Selatan, di tengah tantangan perubahan iklim dan potensi musim hujan yang relatif lebih pendek.
Pemimpin Perum Bulog Kantor Wilayah Provinsi Papua, Chaerul Mazhar, mengatakan kondisi cuaca menjadi salah satu tantangan utama dalam upaya meningkatkan penyerapan beras produksi petani di Papua Selatan, terutama Merauke.
Menurut dia, informasi mengenai proyeksi musim hujan 2026-2027 yang disampaikan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjadi salah satu pertimbangan dalam menyusun strategi penyerapan ke depan.
“Kalau terkait serapan dalam negeri, BMKG sangat rajin menyampaikan potensi 2026-2027. Informasi itu sebenarnya selaras, artinya hujan diproyeksikan akan mundur untuk 2026 ini,” kata Chaerul Mazhar saat ditemui di ruang kerjanya, Kota Jayapura, Papua, Rabu (7/10/2026).
Ia menyebut, berdasarkan informasi yang diterima, musim hujan diperkirakan mulai pada pertengahan Desember 2026, kemudian meningkat pada akhir Desember hingga Januari dan mencapai puncaknya pada Februari. Memasuki pertengahan Maret, kondisi diperkirakan mulai memasuki masa pancaroba.
“Artinya musim hujan pendek. Kalau musim hujan pendek biasanya pasangannya itu kemarau lebih panjang. Jadi memang tantangan kita bersama cukup besar terkait penyerapan di Papua Selatan, terutama Merauke,” ujarnya.
Menghadapi kondisi tersebut, Bulog Papua menyiapkan langkah taktis dan strategis dengan memperkuat koordinasi sejak tahap persiapan. Koordinasi tersebut dinilai penting agar upaya penyerapan produksi petani dapat dilakukan secara lebih terencana dan terpetakan.
Chaerul mengatakan dirinya dalam waktu dekat berencana mengunjungi Merauke untuk membangun komunikasi dengan sejumlah pihak yang berkaitan dengan budidaya padi.
“Saya sendiri di hari kedua menjabat Pemimpin Bulog Papua ini belum sempat juga menyambangi Merauke dan sudah merencanakan itu dalam waktu dekat. Semoga bisa bertemu beberapa tokoh besar di sana terkait budidaya padi, sehingga bisa kita koordinasikan supaya lebih optimal penyerapan 2027,” katanya.
Selain Merauke, Bulog juga mencermati potensi produksi padi di sejumlah wilayah Papua Raya. Berdasarkan data Kementerian Pertanian dan dinas pertanian, potensi produksi padi juga terdapat di Manokwari dan sebagian wilayah Sorong.
Namun, secara historis, penyerapan Bulog dari wilayah-wilayah tersebut masih relatif terbatas.
“Kalau saya lihat sementara data dari Kementan, dinas pertanian, memang ada juga di wilayah Manokwari, kemudian sedikit di Sorong. Tapi kalau lihat dari riwayat penyerapan Bulog, hampir enggak ada,” jelas Chaerul.
Menurut dia, kondisi tersebut berkaitan dengan skala produksi yang relatif kecil. Produksi yang terbatas cenderung langsung terserap untuk kebutuhan masyarakat setempat maupun keluarga petani sehingga tidak seluruhnya masuk ke pasar atau menjadi bagian dari penyerapan Bulog.
Karena itu, untuk sementara Bulog Papua memfokuskan upaya penyerapan di wilayah Papua Selatan, khususnya Merauke dan sejumlah distrik yang menjadi sentra produksi padi.
“Kalau buat Bulog sendiri memang konsentrasi penuh sementara ini diproyeksikan upayanya ke Merauke, Papua Selatan, Tanah Miring, Semangga, Kurik utamanya,” ujarnya.
Chaerul mengungkapkan, realisasi penyerapan beras di Merauke hingga September 2026 baru mencapai sekitar 4.500 ton dari target sekitar 23 ribu ton.
Dengan capaian tersebut, penyerapan beras Merauke baru mencapai sekitar 19,56 persen dari target.
Rendahnya realisasi tersebut tidak terlepas dari kondisi cuaca dan kekeringan yang terjadi di wilayah sentra produksi padi.
“Kalau saya lihat dokumentasinya memang kekeringan luar biasa. Salah satu anggota kami malah punya dokumentasi, retak lahan itu sampai kaki masuk,” katanya.
Ia menilai kondisi tersebut menjadi salah satu faktor eksternal yang sulit dikendalikan sehingga turut memengaruhi produksi maupun penyerapan beras di Merauke.
“Penyerapan beras Merauke memang paling terkecil dari tahun-tahun sebelumnya karena memang eksternalitasnya enggak bisa dilawan,” ujarnya.
Chaerul menambahkan, tantangan perubahan iklim merupakan persoalan yang membutuhkan dukungan dan sinergi dari berbagai pihak. Menurut dia, Bulog tidak dapat bekerja sendiri dalam menjaga optimalisasi penyerapan produksi beras petani.
“Perubahan iklim itu memang luar biasa. Mohon dukungan juga untuk dapat menyampaikan bahwa ini tantangan kita bersama. Bulog tanpa didukung oleh teman-teman yang lain enggak akan bisa,” katanya.
Karena itu, selain memperkuat koordinasi, Bulog Papua akan membangun komunikasi lebih intensif dengan para pemangku kepentingan di Merauke. Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat persiapan penyerapan dan mendukung optimalisasi pengadaan beras pada 2027. (Redaksi)
































































































