JAYAPURA, HarianTerbaruPapua.com – Sejumlah mahasiswa asal Kabupaten Mamberamo Raya menyuarakan keprihatinan dan desakan agar aparat kepolisian segera mengusut tuntas insiden bentrok antara masyarakat sipil dan aparat kepolisian yang terjadi di Burmeso, ibu kota Kabupaten Mamberamo Raya, Selasa (28/10/2025) sekitar pukul 12.00 WIT.
Aktivis mahasiswa Kota Studi Jayapura asal Mamberamo Raya, Hendrik Pitawa, dalam keterangan yang diterima media, menilai bahwa aparat kepolisian seharusnya tidak bertindak represif terhadap masyarakat. Ia menegaskan, tindakan intimidasi hanya akan memperburuk hubungan antara warga dan aparat penegak hukum di daerah tersebut.
“Kami menilai polisi bukan menjadi aktor intimidasi terhadap masyarakat setempat. Aparat seharusnya hadir untuk melindungi, bukan menakuti,” tegas Hendrik Pitawa, Rabu (29/10/2025).
Hendrik juga meminta Kapolres Mamberamo Raya untuk segera memproses dan mengadili pelaku yang terlibat dalam insiden bentrok tersebut. Menurutnya, peristiwa yang diawali dari dugaan persoalan peredaran minuman keras (miras) itu menimbulkan keresahan dan potensi konflik sosial di tengah masyarakat.
“Kami memberikan kritik dan saran kepada Kapolres Mamberamo Raya agar segera menindak tegas pelaku yang melakukan pelemparan maupun pengangkatan senjata di arena tempat masyarakat berkumpul. Tindakan seperti itu dapat memicu perpecahan dan memunculkan sentimen negatif, termasuk rasisme,” ujar Hendrik.
Lebih lanjut, Hendrik meminta DPRK Mamberamo Raya untuk turun tangan menindaklanjuti insiden tersebut secara serius agar tidak terjadi kesalahpahaman berkepanjangan di lapangan.
“Kami minta DPRK segera menanggapi dan mengawasi kasus ini. Jangan sampai masyarakat merasa tidak mendapat keadilan,” imbuhnya.
Hendrik juga menyoroti dugaan keterlibatan oknum aparat dalam praktik jual beli minuman keras di wilayah tersebut. Ia menegaskan bahwa polisi seharusnya fokus menjalankan tugas pokoknya untuk menjaga ketertiban dan melindungi masyarakat, bukan terlibat dalam aktivitas ilegal.
“Isu utama insiden ini memang berawal dari miras. Kalau benar ada oknum yang bermain di situ, harus diusut tuntas. Polisi adalah pengayom masyarakat, bukan pelaku pelanggaran hukum,” tutupnya.
Mahasiswa Mamberamo Raya berharap agar pihak kepolisian segera melakukan evaluasi internal dan membangun kembali kepercayaan masyarakat melalui pendekatan yang lebih humanis dan transparan.
(Redaksi – Harian Terbaru Papua)




































































































