JAYAPURA, HarianTerbaruPapua.com – Pendeta Fredy Toam menyoroti persoalan konflik politik di Papua yang menurutnya berakar pada dendam yang diwariskan lintas generasi.
Hal tersebut disampaikan usai forum diskusi panel Jaringan Komunikasi Oikumene Papua (JAKOP) bersama denominasi gereja-gereja Papua yang digelar di Hotel Mercure Jayapura, Rabu (3/12/2025).
Mantan Ketua Komnas HAM Papua periode 2005-2008 ini menegaskan bahwa konflik politik di Papua terjadi karena banyak pihak masih menyimpan dendam.
“Konflik politik ini cuma terjadi karena banyak orang masih simpan dendam. Kalau orang mau koreksi diri sendiri, dia harus berdamai dengan dirinya,” ujar Toam selaku panelis dalam forum tersebut.
Toam mengkritisi fenomena pewarisan trauma politik kepada generasi muda yang tidak mengalami langsung peristiwa-peristiwa masa lalu.
Ia mencontohkan kasus 1977 di Wamena yang kini sering disuarakan oleh generasi yang bahkan belum lahir saat kejadian tersebut.
“Generasi sekarang tidak mengalami trauma politik. Anak-anak sekarang yang tuntut-tuntut itu belum lahir. Saya mahasiswa zaman itu, saya tahu kasus itu,” kata Toam yang mengaku menyaksikan langsung berbagai kasus selama menjabat sebagai Ketua Komnas HAM Papua.
Menurutnya, generasi muda hanya mendengar cerita trauma tersebut karena diwariskan oleh generasi sebelumnya.
“Kenapa mereka yang bicara kasus ini? Mereka tidak tahu, mereka hanya dengar karena orang mewariskan trauma itu kepada generasi baru. Ini sebenarnya tidak boleh,” tegasnya.
Toam mendesak gereja-gereja di Papua untuk bersuara lebih keras mengajarkan perdamaian dan pengampunan. Ia merujuk pada ajaran Kristen tentang pengampunan dalam Doa Bapa Kami.
“Dendam itu harus dihilangkan. Yesus ajar orang Kristen untuk mengampuni. Kalau kau mengampuni, engkau diampuni. Berkali-kali kau mengampuni, maka hati ini akan tentram. Itu yang harus kita promosikan,” katanya.
Ia menegaskan bahwa jika menyimpan dendam di dalam hati, hal tersebut akan terus melahirkan konflik. “Kalau pelihara dosa di dalam hati, dosa akan melahirkan dosa. Jikalau kau tanam benih baik dalam hati, maka kebaikanmu akan terpancar keluar,” imbuhnya.
Toam juga memaparkan perspektif sejarah Papua yang menurutnya jarang diajarkan di sekolah. Ia menyebut bahwa orang Papua memiliki sejarah maritim yang panjang, termasuk yang disebutnya sebagai “Papuan Viking” atau pelaut-pelaut Papua yang aktif di perairan Nusantara.
Menurut bacaan sejarahnya, pelaut-pelaut Papua ini bahkan pernah mencapai wilayah hingga Laut Jawa, Selat Malaka, bahkan Madagaskar. Kesultanan Tidore kemudian merekrut mereka sebagai prajurit.
Toam menjelaskan bahwa melalui jalur maritim inilah Injil masuk ke Papua.
“Injil masuk dari nusantara ke sini, dia ikut bekas Papuan Viking itu,” katanya.
Fakta menarik yang disampaikan Toam adalah penggunaan bahasa Indonesia di Papua yang sudah dimulai sejak abad ke-19, satu abad sebelum Sumpah Pemuda 1928.
“Penginjil dari Eropa datang sehingga di Jakarta belajar bahasa Indonesia dulu, baru datang bawa Injil dengan bahasa Indonesia ke tanah Papua,” jelasnya.
Ia juga menyoroti keputusan historis Pendeta Rumainum pada 1961 dalam Sidang Dewan Gereja Sedunia di New Delhi, yang menyatakan bergabung dengan Dewan Gereja Indonesia di tengah konflik politik Irian Barat saat itu.
“Apakah itu kata-kata dia? Saya bilang tidak, itu bisikan roh,” ujar Toam.
Menutup paparannya, Toam membandingkan perkembangan Papua dengan negara tetangga Papua Nugini yang merdeka sejak 1975.
“Papua lebih maju daripada negara Papua Nugini. Lihat Port Moresby itu tidak lebih baik dari kota Jayapura. Masalah di sana lebih parah daripada masalah di sini,” katanya.
Ia mengajak masyarakat Papua untuk berorientasi pada kebaikan dan masa depan.
“Jangan kita bermimpi untuk bikin sengsara lagi. Mari kita berorientasi pada kebaikan dan menanam benih yang tumbuh di sini, dan generasi baru akan makan buah kebaikan itu,” pungkas Toam.
(Redaksi – Harian Terbaru Papua)

































































































