SENTANI, HarianTerbaruPapua.com – Bupati Jayapura, Yunus Wonda, menegaskan bahwa pelayanan di Instalasi Gawat Darurat (IGD) harus mengutamakan penyelamatan nyawa pasien tanpa terhambat urusan administrasi.
Penegasan ini disampaikan dalam rapat evaluasi pelayanan RSUD Yowari bersama Wakil Menteri Dalam Negeri Ribka Haluk, Wakil Gubernur Papua Aryoko Rumaropen, jajaran Dinas Kesehatan, serta manajemen rumah sakit, Selasa (17/3/2026).
“IGD adalah wajah dari rumah sakit. Ini menjadi atensi khusus pemerintah daerah agar ke depannya tidak ada lagi kendala dalam pelayanan medis kepada masyarakat,” tegas Yunus.
Dalam arahannya, Yunus meminta seluruh tenaga medis, khususnya di IGD, untuk memprioritaskan penanganan pasien darurat. Ia menekankan bahwa prosedur administrasi tidak boleh menjadi penghambat dalam situasi yang menyangkut keselamatan jiwa.
“Fokus pelayanan dulu, baru administrasi. Tangani pasien terlebih dahulu, urusan administrasi bisa menyusul. Jangan sampai rumah sakit terus-menerus menjadi sorotan publik,” ujarnya.
Selama dua tahun terakhir, RSUD Yowari menjadi perhatian luas masyarakat akibat sejumlah kasus yang memicu kemarahan publik.
Salah satunya adalah meninggalnya ibu hamil Irene Sokoy bersama janinnya pada 17 September 2025 yang diduga akibat kelalaian pelayanan.
Selain itu, terjadi pula kasus penganiayaan terhadap tenaga medis oleh keluarga pasien yang merasa pelayanan tidak maksimal hingga menyebabkan kematian. Kasus terbaru pada awal 2026 juga kembali mencuat, yakni meninggalnya seorang mahasiswa yang oleh pihak keluarga dinilai mengalami perlakuan serupa.
Menanggapi hal tersebut, Yunus meminta seluruh jajaran rumah sakit untuk meningkatkan kepekaan, empati, serta kecepatan dalam merespons kondisi pasien, khususnya di IGD.
“Saya tidak meragukan kualitas SDM, tetapi empati dan respons cepat di lingkungan IGD masih perlu ditingkatkan,” katanya.
Menurut Yunus, evaluasi ini merupakan langkah penting agar RSUD Yowari dapat belajar dari pengalaman sebelumnya dan tidak mengulangi kesalahan yang sama.
“Peristiwa yang sudah terjadi biarlah menjadi pelajaran. Saya tidak ingin itu terulang lagi. IGD itu untuk pelayanan darurat, bukan tempat mempersulit masyarakat,” tegasnya.
Sebagai pimpinan daerah, Yunus juga menyatakan bertanggung jawab atas berbagai kekurangan yang terjadi di fasilitas kesehatan milik pemerintah tersebut.
“Saya harap semua bekerja dengan baik. Saya percaya kemampuan kalian, tetapi yang utama adalah penanganan pertama di IGD harus menjadi prioritas,” pungkasnya. (Cornel)

































































































