JAYAPURA, HarianTerbaruPapua.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Biak Numfor, Papua, sejak Jumat (21/8/2026). Hingga Selasa (25/8/2026), api dilaporkan telah muncul di sedikitnya sembilan titik dan memicu kabut asap pekat yang mengganggu aktivitas masyarakat.
Tiga wilayah yang mengalami kebakaran cukup parah berada di Kampung Adainasnosen, Darfuar, dan Abioki. Kepulan asap dari lokasi kebakaran menyelimuti kawasan permukiman hingga membuat jarak pandang warga menurun drastis, diperkirakan hanya sekitar 50 hingga 100 meter.
Kondisi tersebut tidak hanya mengganggu mobilitas warga, tetapi juga meningkatkan risiko kecelakaan bagi pengendara yang melintas di kawasan terdampak. Paparan asap juga mulai berdampak pada kesehatan masyarakat, terutama warga yang memiliki gangguan pernapasan.
Menyikapi kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Biak Numfor mengambil langkah antisipasi dengan menghentikan sementara kegiatan belajar mengajar di sekolah maupun perguruan tinggi.
Bupati Biak Numfor Markus Oktovianus Mansnembra mengatakan, keputusan tersebut diambil untuk melindungi anak-anak dari paparan kabut asap yang berpotensi memicu gangguan kesehatan, khususnya infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA.
“Karena kabut asap dampak dari kebakaran hutan dan lahan dari sejumlah titik terus terjadi, hari ini kami telah mengeluarkan instruksi kepada sekolah dan perguruan tinggi untuk diliburkan sementara waktu,” kata Markus dalam video yang diterima Kompas.com, Selasa (25/8/2026).
Menurutnya, dampak kabut asap mulai terlihat di fasilitas kesehatan. Sejumlah warga dilaporkan mendatangi RSUD Biak karena mengalami gangguan pernapasan setelah terpapar asap kebakaran.
Markus menyebut, berdasarkan pantauan di Instalasi Gawat Darurat RSUD Biak, sejumlah pasien harus mendapatkan penanganan, termasuk terapi uap dan bantuan oksigen akibat gangguan pernapasan dan asma.
“Pantauan kami tadi malam di IGD RSUD Biak, terdapat sejumlah pasien yang bergantian datang melakukan penguapan atau menggunakan oksigen akibat penyakit asma yang diderita akibat terdampak asap kebakaran saat ini,” ujarnya.
Di tengah kebakaran yang terus meluas, Pemkab Biak Numfor juga mengakui masih menghadapi keterbatasan armada pemadam kebakaran. Kondisi ini membuat proses penanganan api di sejumlah lokasi belum optimal.
Pemerintah daerah pun berencana meminta bantuan pemerintah pusat melalui kementerian terkait, terutama dukungan armada pemadam untuk mempercepat penanganan karhutla.
“Dengan kondisi armada pemadam yang sangat terbatas, kami akan menyurat kepada pemerintah pusat atau kementerian terkait untuk membantu dengan armada,” kata Markus.
Selain penanganan di lapangan, pemerintah daerah mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Kondisi cuaca kering diperkirakan masih berpotensi meningkatkan risiko kebakaran dalam beberapa waktu ke depan.
Markus menyebut informasi dari BMKG menunjukkan fenomena El Nino masih berpotensi berlangsung hingga September dan Oktober. Karena itu, masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran dan segera melaporkan apabila menemukan titik api.
“Dari data BMKG El Nino masih akan terjadi pada bulan September hingga Oktober. Jadi masyarakat harus waspada dengan dampak yang lebih besar,” pungkasnya. (Cornelia)



























































































