SENTANI, HarianTerbaruPapua.com – Festival Danau Sentani (FDS) XV Tahun 2026 mulai diarahkan menjadi lebih dari sekadar pesta budaya tahunan. Pemerintah Kabupaten Jayapura menyiapkan kawasan festival sebagai ruang ekonomi dan pariwisata yang tetap hidup sepanjang tahun, bahkan setelah seluruh rangkaian festival berakhir.
Gagasan tersebut ditegaskan Bupati Jayapura, Yunus Wonda saat membuka FDS XV Tahun 2026. Ia mengatakan berbagai fasilitas yang telah dibangun di kawasan festival tidak akan dibiarkan hanya digunakan selama perhelatan berlangsung.
Sebaliknya, kawasan itu akan dikembangkan menjadi sentra kuliner dan destinasi wisata permanen yang dapat dimanfaatkan masyarakat dalam jangka panjang.
“Tempat ini akan menjadi kuliner permanen dan wisata permanen,” tegas Yunus.
Menurutnya, keberadaan kawasan tersebut harus memberikan dampak nyata bagi masyarakat, terutama dalam menciptakan aktivitas ekonomi baru bagi pelaku UMKM, pedagang, pelaku ekonomi kreatif hingga masyarakat di sekitar Danau Sentani.
“Yang kami mau supaya ekonomi masyarakat di sini bisa hidup,” ujarnya, Senin (25/8/2026).
Yunus menilai, sebuah festival tidak cukup hanya menghadirkan keramaian selama beberapa hari. Setelah panggung dibongkar dan pengunjung kembali ke daerah masing-masing, kawasan festival harus tetap memiliki aktivitas yang mendatangkan manfaat ekonomi.
Karena itu, Pemkab Jayapura ingin menjadikan kawasan FDS sebagai salah satu titik pertumbuhan baru ekonomi masyarakat.
Kuliner khas Papua menjadi salah satu sektor yang akan dikembangkan. Papeda dan berbagai makanan tradisional lainnya diharapkan tidak hanya menjadi hidangan dalam festival, tetapi menjadi bagian dari pengalaman wisata yang dapat dinikmati pengunjung kapan saja.

Konsep ini sekaligus membuka peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha kuliner berbasis pangan lokal.
Dengan demikian, FDS tidak hanya menjadi panggung untuk menampilkan budaya, tetapi juga menjadi pintu masuk bagi wisatawan untuk mengenal cita rasa, kerajinan dan kehidupan masyarakat Papua secara lebih dekat.
Meski membawa konsep pengembangan ekonomi dan pariwisata, Yunus menegaskan identitas utama FDS tetap berada pada budaya masyarakat Sentani.
Tema FDS XV, “Budayaku adalah Hidupku”, menurutnya bukan sekadar slogan festival. Tema tersebut menggambarkan hubungan erat masyarakat dengan adat, seni, lingkungan dan kehidupan sosial yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Seni lukis, kerajinan kulit kayu, tarian di atas perahu hingga berbagai tata nilai adat menjadi kekayaan budaya yang harus terus dirawat.
“Budaya bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi merupakan napas hidup sehari-hari bagi masyarakat,” katanya.
Karena itu, pembangunan pariwisata tidak boleh menghilangkan akar budaya. Sebaliknya, budaya harus menjadi kekuatan utama dalam membangun sektor pariwisata Kabupaten Jayapura.
Yunus juga mengingatkan pentingnya menjaga hubungan masyarakat dengan alam, khususnya Danau Sentani yang menjadi pusat kehidupan sekaligus ikon pariwisata daerah.
FDS XV juga diharapkan menjadi momentum untuk memperkenalkan Danau Sentani kepada masyarakat Indonesia hingga wisatawan mancanegara.
Keindahan danau, budaya masyarakat, seni tradisional serta kehidupan di sekitar kawasan danau dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi daya tarik wisata unggulan Papua.
Pemkab Jayapura ingin potensi tersebut tidak berhenti pada promosi selama festival, tetapi dikembangkan menjadi aktivitas wisata yang berlangsung sepanjang tahun.
“Kita ingin memperlihatkan kepada Indonesia dan internasional bahwa kebudayaan Papua tetap hidup, berdikari dan memancar dengan anggun,” ujar Yunus.
Harapan tersebut sekaligus membuka ruang lebih besar bagi pelaku ekonomi kreatif dan UMKM lokal untuk terlibat langsung dalam industri pariwisata.
Yunus mengakui masih terdapat sejumlah kekurangan dalam penataan kawasan festival. Namun, pemerintah daerah akan terus melakukan evaluasi dan pembenahan agar fasilitas yang tersedia dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan masyarakat.
Tidak hanya FDS, kawasan tersebut nantinya diharapkan dapat menjadi ruang untuk kegiatan budaya, ekonomi kreatif, pertunjukan seni maupun agenda wisata lainnya.
Karena itu, masyarakat diminta ikut menjaga fasilitas yang telah dibangun, termasuk kebersihan kawasan.
“Mari kita jaga tempat ini dengan baik karena tempat ini akan terus kita gunakan untuk menggelar festival dan kegiatan lainnya,” pesannya.
Bagi Pemerintah Kabupaten Jayapura, FDS XV Tahun 2026 menjadi titik penting untuk mengubah cara pandang terhadap festival. FDS tidak lagi sekadar tentang panggung, tarian dan keramaian sesaat, tetapi diarahkan menjadi mesin penggerak ekonomi sekaligus ruang untuk menjaga identitas budaya masyarakat Sentani.
Jika konsep tersebut berjalan konsisten, kawasan FDS berpeluang menjadi etalase budaya Papua sekaligus pusat kuliner dan wisata baru di Kabupaten Jayapura tempat di mana budaya tetap hidup, wisata terus bergerak dan ekonomi masyarakat tumbuh bahkan ketika festival telah usai. (Cornelia)

























































































