JAYAPURA, HarianTerbaruPapua.com – Festival Kopi Papua (Feskop) 2025 yang memasuki tahun ke-8 di eks Terminal Entrop, Kota Jayapura, kembali menjadi ajang penting bagi pegiat kopi lokal untuk memperluas jejaring dan memperkuat eksistensi kopi Papua di kancah nasional maupun internasional. Para petani dan pegiat kopi yang hadir mengungkapkan apresiasi sekaligus harapan besar agar dukungan terhadap petani terus diperkuat.
Joshua Tabuni, petani kopi asal Jayawijaya, Papua Pegunungan, mengaku kehadiran Bank Indonesia (BI) sangat membantu dalam mengangkat kopi Papua.
“Adanya Bank Indonesia sangat membantu kami, khususnya petani kopi di Papua Pegunungan. Ini kali kedua saya ikut festival dan dampaknya luar biasa. Festival ini memberi kami semangat baru untuk terus bekerja,” ujarnya.
Joshua menuturkan, selain memasarkan kopi ke Timika, Jayapura, Sumatera, Malang, dan Yogyakarta secara mandiri, ia juga berkesempatan mengekspor kopi ke Jepang dan Belanda bersama BI.
“Tahun kemarin saya sumbang 300 kilogram untuk ekspor ke Jepang dan Belanda bersama beberapa petani lain. Itu hasil pembinaan BI,” jelasnya.
Ia berharap BI dapat terus mendampingi petani di kebun, terutama untuk mendukung ekspor. “Kalau Bank Indonesia lebih membantu petani di kebun, itu jadi kekuatan besar agar kami bisa ekspor lebih banyak ke depan,” tambahnya.
Kopi Arabika Papua yang dihasilkan Joshua ditanam pada ketinggian 1.200–2.000 mdpl tanpa pupuk kimia, menghasilkan cita rasa khas dan aroma unik. Kopi ini memiliki reputasi internasional berkat profil rasanya yang kompleks, body lembut, serta sentuhan asam dengan nuansa cokelat, floral, atau karamel. Kopi Arabika Papua kini diminati di Swiss, Amerika Serikat, dan berbagai negara lainnya.
Pegiat kopi asal Timika yang dikenal sebagai Opa Black, Musawir, juga memberikan apresiasi. Ia menilai festival ini semakin berkembang setiap tahun.
“Setiap tahun festival ini semakin bagus. Kami jadi tahu bahwa kopi Papua itu sangat beragam. Banyak distrik dan kampung yang punya kopi berkualitas,” ujarnya.
Musawir, yang mulai berkecimpung di dunia kopi sejak 2017, berharap festival tahunan ini dapat mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menikmati kopi murni tanpa gula.
Sementara itu, Pegiat kopi Ambaidiru dari Kabupaten Kepulauan Yapen, Musa menyampaikan bahwa telah empat kali mengikuti festival, menyebut Feskop menjadi titik balik pengenalan kopi dari daerahnya.
“Sebelum ikut festival, orang Papua sendiri belum banyak tahu ada kopi dari Yapen. Setelah kami tampil di festival, kopi Ambaidiru mulai dikenal. Penjualan pun meningkat,” ungkapnya.
Ia berharap ke depan festival ini dilengkapi pembinaan pascapanen dan manajemen pengelolaan kopi. “Kami butuh pembinaan yang lebih intensif, dari pengolahan hingga pemasaran. Festival ini sangat penting untuk memperkuat hubungan kerja sama pengembangan kopi ke depan,” tambahnya.
Kopi Robusta Ambaidiru ditanam di ketinggian 600–1.000 mdpl dan melibatkan lebih dari 200 keluarga petani. Budidaya yang dilakukan secara turun-temurun ini menjadi penopang ekonomi lokal dan telah mendapatkan pengakuan nasional maupun internasional.
Dengan dukungan berkelanjutan dari BI, pemerintah daerah, dan para pegiat kopi, Festival Kopi Papua terus memperkuat posisi kopi Papua di pasar global. Gelaran tahunan ini bukan hanya ajang promosi, tetapi juga ruang berbagi pengetahuan, mendorong UMKM, serta memperluas akses pasar bagi para petani dari gunung hingga pesisir.
Melalui keberlanjutan Feskop, kopi Papua semakin dipandang bukan sekadar minuman, melainkan identitas budaya dan aset ekonomi yang siap mengharumkan nama Papua di panggung dunia.
(DM – Harian Terbaru Papua)































































































