JAYAPURA, HarianTerbaruPapua.com – Perum Bulog Kantor Wilayah (Kanwil) Papua mencatat capaian positif dalam penyerapan beras dari wilayah Papua Selatan, khususnya Kabupaten Merauke. Hingga awal November 2025, volume penyerapan beras dari wilayah tersebut telah mencapai 17.594 ton, atau 112 persen dari target tahunan yang ditetapkan sebesar 15.666 ton.
Pemimpin Perum Bulog Kanwil Papua, Ahmad Mustari, mengungkapkan bahwa penyerapan beras di Merauke masih terus berjalan dan menunjukkan tren peningkatan. Ia optimistis hingga akhir Desember 2025, total penyerapan bisa menembus angka 20 ribu ton.
“Dari target awal 15.666 ton, kita sudah mencapai 17.594 ton. Artinya, capaian penyerapan sudah lebih dari 100 persen. Kami optimis sampai akhir tahun bisa mencapai 20 ribu ton karena proses serapan masih berjalan,” kata Ahmad Mustari di Kota Jayapura, Papua, Senin (10/11/2025).
Dari total tersebut, sekitar 17.500 ton merupakan beras hasil serapan langsung dari petani, sementara sisanya sekitar 200 ton berasal dari gabah hasil penggilingan. Setelah dikonversi, total setara beras mencapai 17.700 ton.
Merauke sendiri disebut sebagai lumbung pangan utama di wilayah Papua, karena merupakan satu-satunya daerah yang memiliki pola tanam dan panen padi sepanjang tahun. Kondisi ini membuat Bulog dapat terus melakukan penyerapan hasil petani tanpa jeda.
“Merauke itu panennya tidak berhenti. Sepanjang tahun kita terus menyerap hasil panen petani, bekerja sama dengan mitra penggilingan. Jadi pasokan beras selalu tersedia,” jelas Mustari.
Meski demikian, ia mengakui tantangan masih ada, terutama terkait perbedaan harga jual di pasar lokal dengan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang digunakan Bulog dalam program serapan.
Menurutnya, sebagian petani lebih memilih menjual beras ke pasar umum karena harga jual di pasaran bisa mencapai Rp15.000 per kilogram, lebih tinggi dibandingkan harga pembelian Bulog yang berada di kisaran Rp12.000 per kilogram.
“Kadang petani lebih memilih menjual ke pasar umum karena harga lebih tinggi dari HPP. Tapi itu tidak masalah. Justru kami senang kalau hasil panen petani bisa dipasarkan seluas-luasnya,” ujarnya.
Bulog Papua tetap berkomitmen untuk menyerap hasil panen lokal semaksimal mungkin guna menjaga ketahanan pangan serta mendukung kesejahteraan petani di Papua Selatan. Penyerapan beras dari Merauke juga menjadi sumber utama pasokan untuk wilayah Papua lainnya, terutama menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru.
“Dengan hasil panen yang terus berjalan dan stok yang mencukupi, kita optimis Papua bisa mandiri dalam pasokan beras dan tidak terlalu bergantung pada pasokan dari luar daerah,” tutup Ahmad Mustari.
(Darul Muttaqin – Harian Terbaru Papua)
































































































