SENTAN, HarianTerbaruPapua.com – Warga peranakan Ifale kembali menggelar tradisi Menggeuw Fafa, sebuah perayaan adat sebagai ungkapan rasa syukur dan penghormatan kepada orang tua, khususnya kaum perempuan atau mama asal Ifale.
Tradisi tahunan ini berlangsung di Kampung Ifale, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Kamis (12/2/2026). Ratusan warga memadati lokasi kegiatan, baik yang menetap di kampung maupun peranakan Ifale yang datang dari berbagai daerah.
Sejak pagi hari, suasana kampung telah dipenuhi warga yang mengenakan busana adat bernuansa merah. Warna ini bukan sekadar hiasan, melainkan simbol keberanian, kekuatan, dan jati diri masyarakat Sentani, khususnya warga Kampung Ifale.
Perayaan yang rutin digelar setiap awal tahun, tepatnya pada bulan Februari, menjadi momentum penting bagi masyarakat Ifale. Selain sebagai ungkapan syukur menyongsong tahun baru, tradisi ini juga menjadi sarana mempererat hubungan kekeluargaan antarwarga adat.

Pemuda adat Kampung Ifale, Alfa Yom, menegaskan bahwa perayaan Tahun Baru di Ifale bukan sekadar pesta, melainkan identitas budaya yang terus dijaga.
“Ini adalah tradisi dari nenek moyang kami. Tahun Baru di Ifale bukan hanya bersukacita, tetapi menceritakan budaya kami. Warna merah menandakan bahwa orang Ifale adalah orang yang berani,” ujarnya.
Rangkaian kegiatan diawali dengan prosesi adat yang ditandai oleh Tarian Khaley. Tarian ini menggambarkan perjalanan hidup masyarakat Ifale dari masa ke masa, termasuk peran sentral perempuan dalam sejarah kepemimpinan adat mereka.
Dalam tradisi lisan masyarakat Sentani, perempuan dipandang sebagai sumber kehidupan sekaligus penerus garis keturunan. Nilai tersebut tercermin kuat dalam tradisi utama Menggeuw Fafa, yang menjadi bentuk penghormatan kepada perempuan asal Ifale dan anak-anak peranakan yang lahir dari mama Ifale.
Meski telah menetap di luar kampung, anak-anak peranakan tetap membawa nama dan identitas Ifale dalam kehidupan mereka.

Salah satu tua adat Kampung Ifale, Saskar Monim, menjelaskan bahwa Menggeuw Fafa merupakan adat yang telah dijalankan sejak zaman leluhur.
“Menggeuw Fafa itu hal yang wajar. Anak-anak peranakan dari Kampung Ifale biasa datang ke kampung mamanya. Tradisi ini sudah dilakukan sejak nenek moyang,” jelasnya.
Ia menambahkan, dalam struktur adat Ifale, suku-suku seperti Monim, Hikoyabi, dan Suebu memiliki tanggung jawab adat untuk menyiapkan berbagai keperluan yang akan diberikan kepada para Menggeuw Fafa.
“Itu kewajiban adat kami sebagai orang Ifale,” tegasnya.
Tradisi ini bukan sekadar seremoni simbolik, melainkan bentuk penghargaan atas pengorbanan perempuan. Dalam adat Ifale diyakini bahwa kandungan mama sangat mahal karena perempuan telah melahirkan, membesarkan, mendidik, hingga mengantarkan anak-anaknya menjadi pribadi yang berhasil dan berkeluarga.

Momentum Tahun Baru dan Menggeuw Fafa juga menjadi ajang silaturahmi bagi masyarakat Ifale yang jarang bertemu sepanjang tahun. Warga yang tinggal di kampung maupun di perantauan dirangkul dalam satu ikatan adat yang kuat.
“Momen ini untuk merangkul semua anak-anak Ifale. Ke mana pun mereka pergi, nama Ifale tetap melekat dan kami menyambut mereka dengan sukacita,” tuturnya.
Perayaan Tahun Baru di Kampung Ifale berlangsung dalam suasana aman, tertib, dan penuh kebersamaan. Tradisi Menggeuw Fafa dan Tarian Khaley menjadi penegasan bahwa masyarakat Sentani di Ifale tetap teguh menjaga warisan leluhur di tengah arus perubahan zaman.
Bagi warga Ifale, Tahun Baru bukan sekadar pergantian waktu, melainkan pernyataan identitas, penghormatan kepada perempuan, serta penguatan solidaritas adat yang terus diwariskan kepada generasi muda Sentani. (Cornelia).
































































































