JAYAPURA, HarianTerbaruPapua.com – Bhikkhu Sri Pannavaro Mahathera menegaskan bahwa perdamaian dunia hanya dapat diwujudkan apabila manusia mampu menjaga dan membersihkan pikirannya dari keserakahan, kebencian, dan kesombongan. Hal itu disampaikannya dalam Ceramah Dhamma bertema “Dharma Menjaga Perdamaian Dunia” pada kegiatan Hening Nusantara serentak se-Indonesia dalam rangka Vesakha Sananda 2570 Buddhist Era (BE)/2026 yang digelar secara daring melalui Zoom Meeting, pada Rabu (20/5/2026).
Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Papua melalui Pembimbing Masyarakat (Pembimas) Buddha bersama umat Buddha Vihara Buddha Maitreya Jayapura mengikuti kegiatan tersebut secara luring di Vihara Buddha Maitreya Jayapura.
Dalam ceramahnya, Bhikkhu Sri Pannavaro Mahathera menjelaskan terdapat dua cara umat Buddha memperingati Tri Suci Waisak, yakni amisa puja dan patipatti puja.
“Amisa puja adalah memperingati Waisak dengan persembahan dan upacara. Sedangkan patipatti puja adalah memuliakan Guru Agung melalui praktik Dhamma,” ujarnya.
Bhikkhu mengatakan meditasi bersama yang dilakukan dalam Hening Nusantara merupakan bentuk praktik Dhamma tertinggi untuk membersihkan batin dan menghadirkan kedamaian.
Bhikkhu kemudian mengaitkan pesan perdamaian dunia dengan pembukaan Konstitusi UNESCO yang dibentuk 43 negara sekitar 80 tahun lalu. Menurutnya, piagam tersebut menyatakan bahwa peperangan bermula dari pikiran manusia dan karena itu perdamaian juga harus dibangun dari pikiran manusia.
“Kalimat itu sangat sejalan dengan ajaran Buddha dalam Dhammapada bahwa pikiran adalah pendahulu, pemimpin, dan pencipta,” katanya.
Bhikkhu menilai berbagai konflik dan peperangan yang menghancurkan kehidupan manusia berawal dari pikiran yang dipenuhi keserakahan, kebencian, dan keangkuhan.
“Kalau pikiran para pemimpin dipenuhi kedamaian dan penghormatan terhadap kehidupan, peperangan tidak mungkin terjadi,” tuturnya.
Dalam penjelasannya, Bhikkhu Sri Pannavaro Mahathera menerangkan konsep loka atau dunia dalam ajaran Buddha yang meliputi dunia tempat tinggal makhluk hidup, jenis-jenis kehidupan, serta dunia batin dan jasmani manusia itu sendiri.
Menurutnya, dunia batin manusia menjadi faktor utama lahirnya konflik maupun kedamaian. Karena itu, praktik meditasi dan kesadaran penuh atau mindfulness menjadi penting untuk menjaga kejernihan pikiran.
Bhikkhu mengibaratkan pikiran seperti air. Air yang bergelombang melambangkan pikiran yang dipenuhi keserakahan, air mendidih menggambarkan kebencian, sedangkan air keruh dan berbau melambangkan kesombongan dan keakuan.
“Kalau pikiran tenang, keserakahan, kebencian, dan keakuan mudah dikenali. Tetapi dalam pikiran yang keruh, semuanya sulit terlihat,” katanya.
Bhikkhu juga menekankan bahwa berbagai persoalan kehidupan, termasuk konflik dalam keluarga, pada dasarnya berakar dari pikiran manusia yang tidak terkendali.
“Percekcokan, pertengkaran, dan kebencian muncul dari pikiran manusia. Dari pikiran manusialah semuanya bisa diperbaiki,” ujarnya.
Bhikkhu mengajak umat Buddha untuk terus melatih meditasi dan menghadirkan kesadaran penuh dalam aktivitas sehari-hari, bukan hanya saat perayaan Waisak.
“Duduklah minimal sekali sehari untuk bermeditasi. Tetapi yang paling penting adalah menghadirkan perhatian penuh dalam aktivitas sepanjang hari,” pesannya.
Menurutnya, kesadaran penuh membantu manusia mengendalikan rasa suka dan tidak suka agar tidak berkembang menjadi keserakahan maupun kebencian.
“Kesadaran itulah yang membuat kita benar-benar hidup pada saat ini,” tandasnya. (Rilis)




































































































