SENTANI, HarianTerbaruPapua.com – Serui Football Academy berhasil mengunci gelar juara Piala Soeratin U-15 Papua 2026 setelah menaklukkan Cenderawasih Trikora melalui drama adu penalti dengan skor 6-5 pada partai final yang berlangsung di Stadion Barnabas Youwe, Sentani, Kabupaten Jayapura, Rabu (9/9/2026).
Pertandingan final berlangsung sengit. Kedua tim tampil terbuka dan saling melakukan serangan hingga waktu normal berakhir dengan skor 1-1.
Penentuan juara akhirnya harus dilakukan melalui adu penalti.
Ketenangan para pemain Serui Football Academy dalam mengeksekusi penalti menjadi pembeda. Enam pemain mampu menyelesaikan tugas dengan baik dan memastikan trofi Piala Soeratin U-15 dibawa pulang ke Kabupaten Kepulauan Yapen, sekaligus akan mewakili Papua ke tingkat nasional.
Pelatih Serui Football Academy, Han Mamoribo, mengapresiasi perjuangan anak asuhnya yang mampu tampil tenang dalam situasi menentukan.
”Kita lihat bahwa kedua tim menampilkan permainan yang baik, saling menyerang. Sampai akhirnya ditentukan melalui adu penalti. Kami bersyukur anak-anak lebih tenang dalam melakukan eksekusi penalti dan puji Tuhan hari ini kita memenangkan pertandingan untuk menjadi juara Piala Soeratin U-15,” ujar Han.
Gelar tersebut menjadi pelipur lara bagi Kepulauan Yapen setelah dua wakil lainnya, masing-masing pada kategori U-13 dan U-17, gagal menjadi juara pada Piala Soeratin Papua tahun ini.
Bagi Serui Football Academy, keberhasilan tersebut juga menjadi pencapaian penting bagi klub yang bermarkas di Kota Serui, yang dikenal dengan julukan Kota Kembang.
Usai memastikan gelar juara, Serui Football Academy kini bersiap menghadapi kompetisi tingkat nasional. Han mengatakan pihaknya akan melakukan koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Yapen terkait dukungan dan pembiayaan untuk persiapan menghadapi kompetisi nasional.
”Selama ini persiapan tim tetap berjalan. Nanti kami pulang dan melakukan koordinasi lagi dengan pemerintah daerah. Hasil ini akan kami sampaikan, semoga pemerintah daerah dapat memberikan bantuan buat Serui Football Academy untuk ke tingkat nasional,” katanya.
Selain evaluasi internal, Serui Football Academy juga membuka kemungkinan menambah kekuatan skuad. Han menyebut pihaknya berencana merekrut dua hingga tiga pemain berdasarkan hasil evaluasi selama mengikuti kompetisi.
”Dari hasil kompetisi ini, mungkin ada dua atau tiga pemain yang akan kami rekrut untuk memperkuat kekurangan-kekurangan tim yang selama ini menurut kami belum berjalan maksimal,” ujarnya.
Sementara itu, kapten Serui Football Academy, M. Abrar, mengaku bangga dengan perjuangan seluruh rekan setimnya.
Pemain yang bersekolah di MTs Darussalam Serui itu juga berharap Piala Soeratin ke depan dapat berkembang dan tidak hanya digelar terpusat di Jayapura.
Ia berharap kompetisi tersebut dapat diselenggarakan di Kabupaten Kepulauan Yapen sehingga lebih banyak talenta muda dari daerah dapat memperoleh kesempatan bertanding dalam kompetisi resmi.
Di sisi lain, manajer Cenderawasih Trikora, Erna Olua, menilai kekalahan di final menyisakan sejumlah catatan penting dalam pembinaan sepak bola usia dini.
Salah satu persoalan yang dihadapi tim adalah sulitnya mendapatkan izin sekolah bagi sejumlah pemain.
Beberapa pemain inti Cenderawasih Trikora tidak dapat tampil karena jadwal pertandingan bertepatan dengan hari aktif belajar.
Menurut Erna, kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri karena Piala Soeratin merupakan kompetisi resmi PSSI yang seharusnya mendapat dukungan dari berbagai pihak.
Selain persoalan izin sekolah, minimnya jumlah peserta juga menjadi perhatian. Pada Piala Soeratin Papua 2026, hanya enam tim yang berpartisipasi pada kategori U-13 dan U-15.
Kondisi itu dinilai membuat atmosfer kompetisi dan kesempatan bagi pemain muda untuk menguji kemampuan menghadapi lebih banyak lawan belum maksimal.
Pihak pelatih dan manajemen Cenderawasih Trikora juga berharap PSSI dapat memberikan kemudahan dalam proses legalitas SSB, terutama terkait biaya pembentukan badan hukum.
Menurutnya, biaya pengurusan legalitas disebut mencapai sekitar Rp2,5 juta untuk tingkat lokal dan Rp8 juta untuk tingkat nasional. Biaya tersebut dinilai menjadi salah satu hambatan bagi SSB di daerah untuk mengikuti kompetisi resmi PSSI.
Erna berharap kee depan, sinergi antara PSSI, sekolah, pemerintah daerah, dan penyelenggara kompetisi dinilai penting agar talenta-talenta muda Papua memiliki ruang yang lebih luas untuk berkembang dan berkompetisi secara resmi.
Sementara itu, persaingan Piala Soeratin Papua 2026 masih menyisakan satu laga final pada kategori U-13.
Dua tim asal Kota Jayapura, SSB Batik dan SSB Nafri, akan berduel memperebutkan gelar juara sekaligus tiket mewakili Papua ke tingkat nasional pada Kamis (10/9).
Partai final U-13 sekaligus upacara penutupan Piala Soeratin Papua 2026 tersebut dijadwalkan dihadiri Gubernur Papua Matius D. Fakhiri dan Plt Ketua PSSI Papua, Arya Sinulingga. (Cornelia)

































































































