TOLIKARA, HarianTerbaruPapua.com – Sejarah masuknya Injil di Tanah Tolikara Wilayah Toli kembali ditandai dengan pembangunan sebuah monumen di Kampung Yugumena Distrik Numba, Jumat (4/9/2026).
Pemerintah Kabupaten Tolikara bersama Gereja Unjili di Indonesia (GIDI) Wilayah Toli mulai membangun Tugu Injil, yang diharapkan menjadi penanda sejarah sekaligus simbol iman, perdamaian, keamanan, dan harapan bagi masyarakat.
Pembangunan Tugu Injil mendapat dukungan dari Gereja Injili di Indonesia (GIDI) Wilayah Toli. Gereja berharap pembangunan tersebut tidak berhenti sebagai monumen fisik, tetapi menjadi bagian dari upaya merawat sejarah masuknya Injil serta memperkuat kehidupan masyarakat.
Pembangunan Tugu Injil Masuk tersebut, diawali dengan Ibadah yang dipimipin oleh Ketua GIDI Wilayah Toli Pdt. Yeremias Wandik, S.Th., yang terdapat dalam kitab Amsal : 25:25. Kemudian dilanjutkan dengan Peletakan Batu Pertama dipimipin oleh Pdt. Yeremias Wandik., S. Th., bersama Ketua DPRK Tolikara, Meinus Y. Wenda., S. IP., Kepala Distrik Konda, Yuben Yanengga dan Kepala Suku Distrik Konda, Wim Yanengga.
Turut hadir, Tokoh gereja dari Klasis Konda, Longgoboma dan Klasis Kai, tokoh Pemuda, intelektual, serta para Kelapa suku dari Wilayah Toli.
Ketua GIDI Wilayah Toli, Pdt. Yeremias Wandik, S.Th., dalam wawancaranya mengatakan pembangunan Tugu Injil di Yugumena tidak dapat dipisahkan dari sejarah panjang masuknya Injil di wilayah tersebut.
Ia menyebut 14 April 1957 sebagai salah satu tanggal penting dalam sejarah tersebut. Pada saat itu, tiga misionaris yang disebut dalam keterangannya sebagai Lembaga Misi RBMU (Regions Beyond Missionary Union) asal Amerika Serikat dan Kanada, Getzwin, dan Gipbin, bersama sejumlah pembantu dari Bokondini, tiba di Yugumena untuk masuk di Wilayah Toli.

(Foto: Kosay Jhesy Kogoya).
“Pada tanggal 14 April 1957 yang silam, ketiga misionaris dari Misi RBMU, Getzwin, Gipbin, dan juga beberapa pembantu dari Bokondini melanjutkan perjalanan bersama sejumlah pembantu dari Bokondini, masuk melalui distrik Wunin dan tiba di Yugumena,” ujar Yeremias.
Untuk mengenang peristiwa tersebut, pemerintah dan gereja kemudian menyepakati pembangunan Tugu Injil di kampung Yugumena, distrik Numba Kabupaten Tolikara.
“Untuk memperingati itu, pihak pemerintah dan pihak gereja sepakat bahwa di tempat ini akan mendirikan Tugu Injil masuk di Yugumena distrik Numba. Tukang sudah ada dan pembangunan akan dimulai di tempat ini,” katanya.
Selain Yugumena, Yeremias menyebut Kembu atau Mamit, Kanggime, dan Bokondini sebagai sejumlah titik yang masuk dalam rangkaian pembangunan atau penguatan penanda sejarah Injil di Tolikara.
Menurutnya, pembangunan tersebut penting agar sejarah tidak hilang dan dapat dikenang oleh generasi yang akan datang.
“Kami bersyukur kepada Tuhan. Ini sebagai tanda bahwa semua generasi yang turun-temurun akan mengingat kembali tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi ketika Injil masuk di wilayah Toli,” tuturnya.
Pdt. Yeremias Wandik mengungkapkan, Pembangunan Tugu Injil disebut telah menjadi bagian dari usulan sejak 2024, termasuk ketika masa kampanye. Setelah melalui proses panjang, usulan tersebut kini mulai diwujudkan melalui peletakan batu pertama.
“Hari ini Tuhan menjawab pergumulan itu. Kami berkumpul di sini untuk meletakkan batu pertama pembangunan Tugu Injil yang masuk ke wilayah Tolikara dan Karubaga. Pembangunan ini akan berdiri mulai hari ini dan terus dilanjutkan,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, Pembangunan ditargetkan selesai pada 9 September. Peresmian selanjutnya direncanakan dilakukan oleh BPP GIDI sebelum kegiatan BPL di Kanggime.
“Target kami selesai Pada 09 September. Peresmian akan dilakukan oleh DPP GIDI sebelum masuk ke kegiatan BPL di Kanggime,” jelasnya.
Secara fisik, tugu tersebut dirancang memiliki tinggi sekitar 10 meter dan lebar 11 meter. Bangunan itu juga akan dilengkapi simbol salib serta gambar yang berkaitan dengan Alkitab.
“Di sini kami akan membuat salib dan di atasnya akan dibuat gambar Alkitab. Itu yang akan kami bangun di tempat ini,” katanya.

(Foto: Kosay Jhesy Kogoya)
Pembangunan Tugu Injil di Karubaga menjadi bagian dari rangkaian pembangunan fasilitas keagamaan di wilayah Tolikara.
Sebelumnya, pembangunan di Kanggime sempat menghadapi kendala. Namun, pemerintah dan gereja kembali mendorong agar pembangunan dapat dilanjutkan hingga selesai.
“Memang sebelumnya mulai dari Kanggime, tetapi ada masalah. Sekarang pembangunan mulai dari Tugu Injil ini sampai beberapa bangunan keagamaan lainnya diharapkan dapat berjalan dengan baik dan sukses,” ungkapnya.
Bagi gereja, pembangunan tersebut memiliki nilai strategis karena menyatukan aspek sejarah, kehidupan iman, dan pembangunan daerah.
Yeremias menegaskan bahwa gereja akan terus mendukung pembangunan pemerintah, termasuk melalui doa dan pengawasan.
“Injil adalah kekuatan Allah. Di dalam Injil ada gereja dan ada pemerintah,” ujarnya.
Ia mengatakan pembangunan Tugu Injil merupakan jawaban atas pergumulan dan doa yang selama ini dilakukan masyarakat.
“Karena itu, kami terus bergumul dan berdoa untuk pembangunan Tugu Injil ini,” katanya.
Yeremias berharap keberadaan tugu tersebut menjadi pengingat bahwa dari wilayah Karubaga, Injil kemudian terus diberitakan dan menyebar ke berbagai pelosok.
“Injil mulai dari tempat ini. Ketika kita mulai dari sini, yang kita dengar sendiri akan menyebar ke pelosok-pelosok,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Tolikara, bupati, wakil bupati, Ketua DPRK Tolikara beserta seluruh jajaran yang telah mendorong program tersebut.
“Oleh karena itu, kami atas nama pimpinan Gereja GIDI menyampaikan terima kasih kepada pihak pemerintah, bupati, wakil bupati, ketua DPR beserta jajarannya yang telah membuat program ini. Hari ini kegiatan dimulai dan besok pembangunan akan dilanjutkan,” pungkasnya.
Sementara itu, Ketua DPRK Tolikara, Meinus Y. Wenda, S.IP., mengatakan pembangunan tersebut harus berjalan sesuai perencanaan dan mendapat pengawasan dari lembaga legislatif.
“Harapan kami, pemerintah Kabupaten Tolikara, baik legislatif maupun eksekutif, agar Tolikara harus damai, Tolikara aman, dan Tolikara sejahtera,” kata Meinus.

(Foto: Kosay Jhesy Kogoya)
Menurut Meinus, pembangunan Tugu Injil memiliki makna penting karena sejarah Tolikara tidak dapat dipisahkan dari perjalanan masuk dan berkembangnya Injil.
“Karena nama Tolikara menjadi besar oleh Injil, maka program Bupati Kabupaten Tolikara membangun Tugu Injil di Yugumena harus berjalan,” ujarnya.
Ia mengatakan pembangunan fasilitas keagamaan juga direncanakan di sejumlah wilayah, termasuk Kanggime dan Bokondini. DPRK Tolikara, kata dia, akan menjalankan fungsi pengawasan untuk memastikan pembangunan sesuai target dan desain yang telah ditetapkan.
“Kami akan mengawal. Bangunannya harus berjalan sesuai dengan target dan gambar yang sudah disepakati. Kalau ada yang tidak sesuai, kami akan turun melihat pembangunan di lapangan,” tegasnya.
Pembangunan Tugu Injil di Yugumena kini menjadi lebih dari sekadar proyek pembangunan fisik. Tugu tersebut diharapkan menjadi penanda sejarah masuknya Injil, simbol iman dan perdamaian, serta warisan bagi generasi Tolikara.
Di tempat yang menjadi bagian dari sejarah masuknya Injil pada 1957 itu, pemerintah dan gereja berharap nilai-nilai yang diwariskan dari perjalanan tersebut terus hidup dan menjadi kekuatan untuk membangun Tolikara yang damai, aman, dan sejahtera. (Jhesy Kogoya Kosay)






























































































