SENTANI, HarianTerbaruPapua.com – Kembali digelarnya Festival Danau Sentani (FDS) XV Tahun 2026 membawa angin segar bagi masyarakat yang menggantungkan hidup dari aktivitas wisata di Danau Sentani, khususnya para motoris perahu di kawasan Kalkote, Kabupaten Jayapura, Papua.
Setelah sempat vakum selama beberapa tahun, FDS kini kembali digelar dan memasuki hari ketiga. Antusiasme pengunjung yang datang ke kawasan Kalkote mulai memberikan dampak langsung terhadap pendapatan masyarakat lokal.
Salah satu motoris Danau Sentani, Jhon Deda, mengaku bangga melihat kawasan Kalkote kembali ditata dan digunakan sebagai pusat kegiatan festival. Menurutnya, perubahan tersebut tidak hanya mempercantik kawasan wisata, tetapi juga membuka kembali peluang ekonomi bagi masyarakat asli Sentani.
“Sebagai masyarakat asli Sentani, kami sangat bangga karena Kalkote sekarang sudah dibuka dan ditata kembali. Kebersihan lingkungan juga sudah terjaga dan pembangunan terus dilakukan. Kalau masih ada kendala, menurut saya itu hal yang wajar dalam proses pembangunan,” ujar Jhon, Kamis (27/8/2026).
Ia mengatakan, meningkatnya jumlah pengunjung selama FDS berdampak signifikan terhadap pendapatan para motoris. Sebelum adanya kegiatan besar seperti festival, pendapatan sehari rata-rata hanya sekitar Rp500 ribu.
Namun selama FDS berlangsung, penghasilan motoris dapat meningkat hingga Rp1 juta bahkan Rp2 juta dalam sehari.
Tarif jasa perahu pun relatif terjangkau, yakni sekitar Rp10 ribu per orang untuk mengelilingi kawasan Danau Sentani.
“Biasanya kami hanya dapat sekitar Rp500 ribu sehari. Tetapi dengan adanya event seperti ini, pendapatan bisa mencapai Rp1 juta sampai Rp2 juta. Ini sangat membantu kami,” katanya.
Meski demikian, Jhon berharap peningkatan aktivitas ekonomi tersebut tidak hanya berlangsung selama FDS. Ia meminta Pemerintah Kabupaten Jayapura menjadikan Kalkote sebagai kawasan wisata yang hidup sepanjang tahun, bukan hanya ramai ketika festival digelar.
Menurutnya, kawasan tersebut perlu dilengkapi dengan taman hiburan, pusat kuliner khas Papua, serta ruang bagi masyarakat untuk menjual kerajinan, aksesori dan oleh-oleh khas Papua.
Dengan begitu, Kalkote dapat menjadi destinasi wisata harian yang mampu menarik masyarakat lokal maupun wisatawan dari luar daerah.
“Harapan saya, event ini jangan berhenti sampai di sini. Kalkote kalau bisa dilengkapi taman hiburan, kuliner khas Papua, aksesori dan oleh-oleh khas Papua. Jadi tidak hanya saat FDS orang datang, tetapi setiap hari ada pengunjung,” ujarnya.
Jhon menilai, konsep tersebut akan menciptakan mata rantai ekonomi yang lebih panjang. Pengunjung dapat menikmati pemandangan Danau Sentani sambil bersantai, menikmati kopi dan makanan lokal di bawah pepohonan sagu, sementara masyarakat memperoleh ruang untuk mengembangkan usaha.
Ia pun berharap Bupati Jayapura dapat mendorong agar kawasan wisata Kalkote tidak bergantung pada musim festival.
“Kalau ada taman hiburan dan aktivitas ekonomi setiap hari, orang bisa datang menikmati Danau Sentani, minum kopi, makan makanan lokal, dan naik perahu. Kami masyarakat juga bisa mendapatkan pemasukan dari usaha yang kami jalankan,” tuturnya.
Harapan para motoris tersebut sekaligus menjadi catatan penting di tengah kembali bergulirnya FDS. Festival memang mampu mendatangkan ribuan pengunjung dan menggerakkan ekonomi masyarakat dalam waktu singkat. Namun, tantangan sebenarnya adalah bagaimana momentum tersebut tidak berakhir bersamaan dengan penutupan festival.
Karena itu, penataan Kalkote perlu diarahkan menjadi kawasan wisata berkelanjutan dengan fasilitas yang memadai, kebersihan yang terjaga, ruang usaha bagi masyarakat lokal, serta agenda wisata yang berlangsung secara rutin.
Dengan pengelolaan yang konsisten, Danau Sentani tidak hanya menjadi latar belakang festival tahunan, tetapi dapat menjadi sumber penghidupan masyarakat sekaligus destinasi wisata unggulan Papua yang hidup sepanjang tahun. (Redaksi)


























































































