JAYAPURA, HarianTerbaruPapua.com – Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Provinsi Papua melalui Bidang Urusan Agama Kristen bekerja sama dengan LPP TVRI Papua menyelenggarakan dialog dalam “Papua 60 Menit” yang menekankan pembahasan penguatan moderasi beragama, pencegahan radikalisme dan kekerasan ekstrem, serta peran generasi muda dalam membangun budaya damai di Papua, Kamis (17/9/2026).
Dialog tersebut menghadirkan Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kemenag Provinsi Papua Klemens Taran, Komandan Densus 88 Anti Teror Kombes Pol. Surya Putra Mustika, Kepala Bidang Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) Dinas Pendidikan Provinsi Papua Manius Wenda, serta anggota Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Papua Pdt. MPA Mauri, Dialog tersebut dipandu Pranata Humas Kanwil Kemenag Papua, Dewi Anggraeni.
Dalam dialog tersebut, Kakanwil Kemenag Papua Klemens Taran, menjelaskan bahwa moderasi beragama menjadi salah satu upaya untuk menjaga keseimbangan di tengah keberagaman masyarakat Indonesia, termasuk Papua.
“Moderasi beragama itu menjaga keseimbangan. Tidak boleh terlalu ke kanan, tidak boleh terlalu ke kiri,” terang Kakanwil.
Klemens juga menyampaikan pentingnya keteladanan guru, orang tua, dan tokoh agama dalam membentuk karakter generasi muda. Menurutnya, fondasi moderasi beragama perlu ditanamkan sejak pendidikan menengah agar generasi muda memiliki dasar yang kuat ketika kelak menjadi pemimpin.
“Pemuda atau pelajar adalah pemimpin masa depan. Ketika mereka tidak diberikan fondasi yang kuat, kita tidak boleh berharap ada pemimpin di masa depan yang baik,” katanya.
Sementara itu, Surya Putra Mustika, menyampaikan bahwa berdasarkan Indeks Potensi Ancaman Terorisme dan Kerawanan Wilayah (IPAT-KW) yang dirilis pada periode sebelumnya, posisi Papua berada pada kategori moderat. Namun, kondisi tersebut tetap membutuhkan kewaspadaan.
Ia menjelaskan, Densus 88 juga menemukan adanya pergeseran pola paparan radikalisme dan kekerasan ekstrem di kalangan anak muda. Jika sebelumnya identitas agama dan ideologi menjadi salah satu faktor yang digunakan sebagai motivasi, kini terdapat fenomena paparan kekerasan ekstrem dan radikalisme melalui ruang digital.
“Banyak anak-anak sekarang yang terpapar kekerasan ekstrem dan radikalisme di ruang digital,” jelasnya.
Dari sisi pendidikan, Manius Wenda mengatakan sekolah memiliki peran penting dalam membangun karakter siswa. Pembinaan dilakukan melalui pembelajaran, termasuk PPKn, Pancasila, dan pendidikan agama, serta melalui keteladanan guru.
“Guru harus menjadi contoh, menjadi teladan bagi siswa-siswa itu sendiri,” tuturnya.
Manius juga menjelaskan bahwa sekolah dapat membiasakan siswa menyelesaikan persoalan melalui dialog. Pendekatan tersebut dapat dilakukan melalui kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler, termasuk diskusi mengenai toleransi dan konflik.
“Siswa dibiasakan untuk memecahkan masalah dengan dialog, tidak harus dengan kekerasan,” ujarnya.
Pdt. MPA Mauri dari FKUB Provinsi Papua menekankan pentingnya keteladanan tokoh agama, orang tua, dan guru dalam membentuk sikap generasi muda. Menurutnya, keteladanan perlu diwujudkan melalui tiga pola, yakni pola pikir, pola ucap, dan pola tindak.
“Dalam tiga pola ini, harus ditampilkan oleh tokoh-tokoh agama. Dan akhirnya, dari tokoh-tokoh itu turun ke umat,” katanya.
Pdt. Mauri juga memperkenalkan konsep “5 I” sebagai nilai yang dapat menjadi bekal generasi muda, yaitu iman, ilmu, integritas, inovasi, dan implementasi.
Menurutnya, kelima nilai tersebut perlu dikembangkan secara berkelanjutan agar pelajar dan pemuda memiliki karakter serta mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat.
Dalam dialog tersebut, para narasumber juga menyoroti pentingnya kolaborasi dalam membangun generasi muda Papua yang toleran dan cinta damai. Kakanwil Kemenag Papua menyampaikan bahwa Kementerian Agama terus mendorong penguatan moderasi beragama melalui berbagai program, termasuk pemanfaatan ruang digital, kerja sama dengan lembaga keagamaan, serta pelibatan penyuluh agama.
Kemenag Papua juga mendorong pengawasan penggunaan gawai di lingkungan pendidikan. Hal tersebut dilakukan melalui edaran yang diteruskan kepada satuan kerja (satker) daerah di 28 kabupaten dan 1 kota untuk ditindaklanjuti kepada pimpinan sekolah, baik negeri maupun swasta.
Pada kesempatan yang sama, Surya menyampaikan bahwa upaya pencegahan dan penangkalan perlu dilakukan secara berkelanjutan. Ia juga menyebut keterlibatan masyarakat, termasuk mereka yang pernah terpapar paham radikal dan telah menjalani proses deradikalisasi, sebagai bagian dari upaya membangun pemahaman mengenai pentingnya perdamaian dan menolak kekerasan.
Mengakhiri dialog, Klemens menegaskan bahwa pembangunan generasi muda Papua membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Ia berharap Papua dapat menjadi rumah bersama bagi setiap orang yang hidup dan menetap di dalamnya.
“Papua generasi akan datang menjadi orang-orang yang mencintai negerinya, menjadikan Papua menjadi honai (rumah) bersama bagi setiap orang yang hidup dan menetap,” tutupnya.
Senada dengan itu, para narasumber menggarisbawahi pentingnya sinergi keluarga, sekolah, masyarakat, tokoh agama, dan pemerintah dalam membangun karakter generasi muda yang toleran dan cinta damai.
Dialog Papua 60 Menit ditutup dengan penegasan bahwa Papua Tanah Damai merupakan komitmen bersama, dengan generasi muda sebagai bagian penting dalam menjaga kerukunan, cinta kasih, dan perdamaian di tengah keberagaman Papua. (Rilis)



























































































