JAYAPURA, HarianTerbaruPapua.com – Tim gabungan yang terdiri dari TNI, Polri, Basarnas, Tim DVI, dan instansi terkait terus mengintensifkan proses pencarian korban, identifikasi, serta penyelidikan pascaledakan yang diduga berasal dari bom peninggalan Perang Dunia II di kawasan Kompleks Ikan, Kabupaten Biak Numfor.
Memasuki hari keenam (H+6) pascainsiden yang terjadi pada 31 Mei 2026, tim gabungan berhasil menuntaskan sterilisasi area Ring Satu hingga mencapai 100 persen. Sebelumnya, area tersebut baru dinyatakan aman sekitar 75 persen.
Kapolres Biak Numfor, AKBP Ari Trestiawan, menegaskan bahwa meskipun area Ring Satu telah dinyatakan steril, proses pencarian korban yang masih belum ditemukan serta penyelidikan penyebab ledakan akan terus dilakukan secara maksimal.
“Kami bersama seluruh unsur TNI, Basarnas, dan instansi terkait terus berupaya semaksimal mungkin dalam proses pencarian korban yang masih belum ditemukan. Area Ring Satu saat ini telah dinyatakan steril 100 persen, namun masyarakat tetap tidak diperkenankan memasuki lokasi demi keselamatan dan kelancaran proses pencarian serta penyelidikan yang masih berlangsung,” ujar Kapolres saat memberikan keterangan pers, Jumat (5/6/2026).
Pada operasi pencarian hari ini, Tim Basarnas bersama tim gabungan kembali menemukan 17 potongan bagian tubuh di sekitar lokasi kejadian. Seluruh temuan tersebut selanjutnya diserahkan kepada Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Papua untuk proses identifikasi lebih lanjut.
Selain itu, petugas juga menemukan sejumlah barang yang diduga milik korban, di antaranya satu kartu keluarga atas nama Luther Raubabah, satu unit proyektor merek Sony, satu telepon genggam Samsung, satu bor listrik, satu tas, satu dompet, satu mixer, serta satu batang besi sepanjang sekitar 40 sentimeter.
Sementara itu, Tim DVI Polda Papua telah memeriksa 34 potongan jaringan tubuh yang ditemukan selama proses pencarian. Dari jumlah tersebut, enam sampel DNA postmortem berhasil diambil dan akan dikirim ke Laboratorium DNA Bareskrim Polri guna mendukung proses identifikasi korban secara ilmiah.
Di lokasi yang sama, Tim Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) juga menemukan 21 serpihan yang diduga merupakan bagian logam, satu mata gergaji, satu gagang gergaji besi, dan satu mata gerinda. Seluruh barang tersebut ditemukan dalam radius sekitar 50 meter dari titik yang diduga menjadi pusat ledakan.
Untuk mengungkap penyebab pasti kejadian, tim penyidik turut mengamankan sejumlah barang bukti lainnya, antara lain tiga unit perahu, dua unit kompresor yang dilengkapi selang sepanjang 150 meter dan 200 meter beserta regulator, tiga mesin tempel berkapasitas 15 PK, satu mesin tempel 40 PK, dua kantong jaring, satu pasang fins (kaki katak), satu masker selam, serta satu set sabuk pemberat penyelaman.
AKBP Ari menegaskan bahwa seluruh barang bukti yang ditemukan akan menjadi bagian penting dalam proses penyelidikan guna mengungkap kronologi dan penyebab ledakan secara menyeluruh.
“Kami memastikan seluruh barang bukti yang ditemukan akan diperiksa secara mendalam oleh tim penyidik dan laboratorium forensik. Fokus kami saat ini adalah menemukan korban yang masih belum ditemukan, mengidentifikasi seluruh korban secara akurat, serta mengungkap secara tuntas penyebab peristiwa ini,” tegasnya.
Hingga saat ini, seluruh korban luka dilaporkan telah menjalani rawat jalan dan mendapatkan pendampingan melalui posko yang disiapkan pemerintah daerah bersama unsur terkait.
Kasi Ops Basarnas Kabupaten Biak Numfor, Andarias Alik mengatakan operasi pencarian dan pertolongan (SAR) dijadwalkan memasuki tahap akhir. Namun, apabila terdapat pertimbangan dari pemerintah daerah maupun pihak keluarga korban, masa operasi pencarian masih dapat diperpanjang sesuai kebutuhan di lapangan.
Tim gabungan menegaskan komitmennya untuk terus bekerja maksimal hingga seluruh proses pencarian, identifikasi korban, serta penyelidikan penyebab ledakan dapat diselesaikan secara menyeluruh. (Cornelia)
























































































