JAYAPURA, HarianTerbaruPapua.com – Keharmonisan umat beragama menjadi fondasi penting bagi terciptanya kehidupan masyarakat yang damai, rukun, dan toleran. Dalam rangka memperkuat komitmen tersebut, Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Jayapura menggelar Focus Group Discussion (FGD) Penguatan Deteksi Dini Konflik Sosial Berdimensi Keagamaan dengan tema “Merawat Kebersamaan, Meneguhkan Moderasi Beragama di Tengah Keberagaman”.
Kegiatan yang berlangsung di salah satu hotel di Sentani, Kabupaten Jayapura, pada Selasa (26/8/2025) ini dihadiri 45 peserta dari 24 organisasi masyarakat (Ormas) Islam yang ada di Kabupaten Jayapura. Acara dibuka secara resmi oleh Kepala Kemenag Kabupaten Jayapura, Steven Alexander Wonmaly, didampingi Kepala Seksi Bimas Islam, Edi Abdul Kholiq.
Dalam sambutannya, Steven Wonmaly menegaskan bahwa FGD ini bertujuan memetakan potensi konflik sosial berdimensi keagamaan sekaligus menjadi langkah preventif dalam mencegah terjadinya gesekan antarumat.
“Harapan kita bersama adalah hidup rukun dan damai. Ini bagian dari ajaran Tuhan, dan sebagai umat beragama kita harus memahaminya untuk kebaikan bersama,” ucap Steven.
Ia menambahkan, kegiatan ini juga selaras dengan keputusan Menteri Agama Nomor 332 Tahun 2023 tentang sistem peringatan dini konflik sosial. “Deteksi dini ini tidak hanya menyentuh aspek formalitas, tapi juga langsung pada kehidupan masyarakat. Kemenag berkomitmen menjaga toleransi, memberikan pemahaman kepada masyarakat, agar kebersamaan di Kabupaten Jayapura terus terjaga,” jelasnya.

Sementara itu, Edi Abdul Kholiq yang turut menjadi narasumber menekankan bahwa kegiatan ini merupakan langkah awal yang proaktif dari Kemenag Kabupaten Jayapura. “Melalui FGD ini kita bisa mengidentifikasi tanda-tanda awal potensi konflik keagamaan. Jika ada kejadian sekecil apa pun, kita bisa segera meredamnya sebelum meluas,” ungkap Edi.
Ia juga menyoroti pentingnya peran Ormas agama dalam menyebarkan pemahaman moderasi beragama kepada masyarakat. “Ormas sangat strategis untuk menjaga kerukunan. Peran mereka dalam memberikan edukasi akan memperkuat persaudaraan di tengah keberagaman,” tambahnya.
Pada akhir kegiatan, seluruh peserta dari 24 Ormas Islam menyepakati lima poin inti sebagai pedoman bersama. Poin tersebut diharapkan menjadi acuan saat menghadapi potensi konflik agar tidak menimbulkan dampak yang dapat memecah belah kerukunan umat beragama di Papua, khususnya di Kabupaten Jayapura.
Dengan adanya forum ini, Kemenag Jayapura berharap moderasi beragama dapat semakin mengakar di masyarakat, sehingga nilai toleransi dan kebersamaan dapat terus dijaga dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika.
(Redaksi – Harian Terbaru Papua)






























































































