SENTANI, HarianTerbaruPapua.com – Di tengah masih berlangsungnya penanganan ratusan korban dugaan keracunan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Jayapura, Gereja Kristen Injili (GKI) di Tanah Papua melalui Klasis GKI Tanah Merah dan Klasis GKI Sentani membuka dapur kemanusiaan untuk membantu para pasien serta keluarga yang mendampingi mereka di fasilitas kesehatan.
Sekretaris Klasis GKI Tanah Merah, Pdt. Aus Culavius Kawaitouw mengatakan dapur pelayanan tersebut mulai beroperasi sejak Rabu, 5 Agustus 2026, di Puskesmas Depapre dan RSUD Yowari, Kabupaten Jayapura.
Pelayanan ini ditujukan untuk menyediakan makanan dan minuman bagi pasien yang terdampak dugaan keracunan MBG, sekaligus membantu para orang tua dan keluarga yang selama berhari-hari mendampingi anak-anak mereka menjalani perawatan.
“Kami hadir sebagai gereja untuk melayani. Bukan hanya mendoakan, tetapi juga memastikan para keluarga yang menjaga anak-anak mereka tetap bisa makan dan minum selama berada di puskesmas maupun rumah sakit,” ujar Pdt. Kawaitouw, Rabu (5/8/2026).
Menu yang disiapkan dalam dapur kemanusiaan tersebut antara lain bubur, telur, air mineral, dan teh hangat. Pelayanan akan terus dilakukan dalam beberapa hari ke depan hingga seluruh pasien dinyatakan pulih dan diperbolehkan pulang oleh tenaga medis.
Menurut Pdt. Kawaitouw, warga GKI yang berada di delapan kampung di Distrik Depapre juga turut mengambil bagian dalam pelayanan tersebut. Sejumlah pendeta bersama Ketua Klasis GKI Tanah Merah dan Ketua Klasis GKI Sentani terlihat hadir secara langsung memberikan dukungan moral kepada para korban yang masih menjalani perawatan.
Ia mengaku prihatin sekaligus kecewa atas kejadian yang telah menimbulkan dampak besar terhadap masyarakat, terutama karena mayoritas korban merupakan anak-anak Papua.
“Peristiwa ini adalah kejadian luar biasa yang harus menjadi perhatian serius pemerintah. Korban paling banyak adalah anak-anak Papua. Jangan sampai peristiwa seperti ini terulang kembali,” tegasnya.
GKI di Tanah Papua juga menyampaikan rekomendasi agar pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Distrik Depapre dihentikan sementara sampai seluruh proses evaluasi selesai dilakukan.
Menurutnya, pemerintah perlu membenahi secara menyeluruh sistem pengelolaan dapur, mulai dari standar keamanan pangan, pengawasan, hingga mekanisme distribusi makanan sebelum program kembali dijalankan.
“Kami menyarankan agar sementara waktu program MBG di Depapre dihentikan. Dapurnya ditutup terlebih dahulu, dilakukan pembenahan secara menyeluruh, kemudian dievaluasi sehingga ketika dibuka kembali benar-benar menjamin keamanan makanan bagi anak-anak,” katanya.
Sikap gereja tersebut menunjukkan bahwa penanganan kasus dugaan keracunan MBG tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan tenaga kesehatan, tetapi juga mendapat perhatian luas dari lembaga keagamaan yang turut mengambil peran dalam pelayanan kemanusiaan bagi para korban dan keluarga mereka. (Cornelia)



























































































