JAYAPURA, HarianTerbaruPapua.com – Kepala Bidang Bimbingan Masyarakat (Kabid Bimas) Katolik Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Provinsi Papua, Fransiscus Xaferius Lesomar, mengatakan bagi umat Katolik, doa kebangsaan bukanlah formalitas, tapi implementasi iman di ranah sosial. Hal ini disampaikan ketika diwawancarai di ruang kerjanya pada Kamis, (30/7/2026).
Frans mengapresiasi langkah Kementerian Agama Republik Indonesia yang menyelenggarakan acara Zikir dan Doa Kebangsaan pada tanggal 01 Agustus mendatang. Kegiatan yang merupakan langkah awal dalam merayakan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ini, ia nilai dapat meneguhkan kembali komitmen kebangsaan.
Tema yang diusung yaitu Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur, menurut Frans mencerminkan pilar-pilar utama dalam ajaran sosial Gereja Katolik.
“Bagi Umat Katolik, doa kebangsaan bukanlah formalitas, melainkan implementasi radikal dari iman yang bergerak di ranah sosial,” ujar Frans.
Lebih lanjut Frans menjabarkan tiga bobot utama ajaran sosial Gereja Katolik yang dapat menjadi fondasi dalam doa, terutama bagi umat Katolik yang mengikuti acaranya di 01 Agustus mendatang.
“Pertama terkait prinsip kesejahteraan bersama, atau Bonuk Commune. Ajaran sosial Gereja Katolik menegaskan bahwa kemakmuran sebuah bangsa tidak boleh dinikmati oleh segelintir orang atau kelompok saja,” ujar Frans.
Frans meneruskan, doa dan ikhtiar umat pada prinsip ini adalah memastikan bahwa seluruh kebijakan publik, roda ekonomi, dan hasil bumi benar-benar berdampak pada seluruh rakyat, dari Sabang sampai Merauke agar makmur.
“Kedua, ada bobot keadilan dan keberpihakan pada yang lemah. Ini adalah jantung dari pilar Indonesia Adil. Ajaran sosial Gereja Katolik menuntut kita tidak hanya sekedar berderma, tapi juga membongkar ketimpangan struktur sosial yang ada,” pungkas Frans.
Frans menambahkan, dalam doa kebangsaan ini, Frans mengajak umat untuk dapat memohon pertobatan sosial agar bangsa semakin adil, dimana hak-hak kaum marjinal, masyarakat adat, pekerja kecil, dan saudara-saudara yang difabel dilindungi secara hukum dan dihormati secara sosial.
“Ketiga yaitu prinsip subsidiaritas, solidaritas, dan keutuhan ciptaan atau Laudato Si’. Kedaulatan yang kita doakan adalah kedaulatan yang bermartabat,” kata Frans.
Frans melanjutkan bahwa ajaran sosial Gereja Katolik mengajarkan prinsip subsidiaritas, artinya negara harus memperdayakan komunitas lokal. Selain itu, kedaulatan pangan dan energi harus sejalan dengan pelestarian lingkungan, karena alam adalah rumah kita bersama.
Frans menyatakan bobot teologis dari doa menyambut Hari Kemerdekaan sangat kongkret.
“Melalui Zikir dan Doa Kebangsaan ini, Kemenag ingin mengajak seluruh umat untuk menyadari bahwa kesalehan rohani harus berbuah menjadi kesalehan sosial,” kata Frans.
Diakhir wawancara frans mengajak umat Katolik yang turut andil dalam Zikir dan Doa Kebangsaan 1 Agustus nanti membawa komitmen ajaran sosial Gereja Katolik ke dalam doa, dan diwujudkan lewat kerja nyata bersama seluruh elemen bangsa untuk mewujudkan Indonesia berdaulat, adil, dan makmur. (Rilis)




























































































