PUNCAK JAYA, HarianTerbaruPapua.com – Tim Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Puncak dan Puncak Jaya kembali menunjukkan komitmen kemanusiaannya di tengah situasi sulit. tim gabungan menggelar aksi pengobatan massal dan pelayanan kesehatan bagi warga pengungsi yang terdampak konflik militer. Kegiatan ini dipusatkan di halaman Gereja GIDI Wilayah Yamo, Klasis Mulia, Jemaat Tirineri, Distrik Yambi, Kabupaten Puncak Jaya, Pada Senin (20/4/2026).
Ya,sekitar Sekitar 260 hingga 300 warga pengungsi dari Kampung Kumikomo, Distrik Magaebukme dan kampung Tenoti,Distrik Kembru,mendapatkan penanganan medis langsung dari tim ahli PMI. Selain layanan kesehatan, PMI juga menyalurkan bantuan logistik esensial berupa sembako, selimut, terpal untuk hunian sementara, serta asupan nutrisi khusus seperti susu untuk bayi dan anak-anak.
Di sela misi medis tersebut, Tim PMI yang dipimpin oleh Ketua PMI Puncak Jaya, Nelson Wonda, melakukan evakuasi memilukan di Kampung Tenoti, Distrik Kembru. Tim berhasil mengevakuasi jenazah seorang pria lansia bernama Amer Walia, warga sipil yang menjadi korban dalam situasi konflik ini.
Jenazah almarhum langsung dimakamkan secara adat melalui prosesi kremasi oleh Tim PMI bersama warga setempat. Berdasarkan data lapangan, penemuan ini menambah daftar warga sipil yang meninggal dunia akibat konflik di wilayah tersebut menjadi 11 orang. Hingga saat ini, 11 jenazah telah dikremasi, sementara satu warga lainnya bernama Nonggopri Kogoya (50) masih dinyatakan hilang dan dalam proses pencarian oleh tim.
Aksi kemanusiaan ini menyisakan haru mendalam bagi para pengungsi. Mama Nopera Telenggen, warga asal Kampung Kumikomo, Distrik Magaebukme, tak kuasa menahan air mata saat menerima bantuan. Meski bersyukur atas kehadiran PMI, ia tetap menyimpan harapan besar akan berakhirnya pertikaian.
“Kami berharap tidak ada lagi penembakan. Kami ingin kembali ke kampung halaman dan menjalani keseharian kami seperti sedia kala,” ungkapnya lirih.
Ketua PMI Kabupaten Puncak, Ibu Elpina Kogoya, menyampaikan rasa syukur karena tim dapat menjangkau masyarakat meskipun dalam kondisi keamanan yang menantang. Ia memastikan bahwa pendampingan terhadap pengungsi akan terus berlanjut.
“Kami telah melayani lebih dari 300 pengungsi dan berencana melakukan pengobatan susulan agar warga bisa benar-benar pulih, baik secara fisik maupun psikis,” ujar Elpina.
Ia juga menekankan bahwa jaminan keamanan adalah kebutuhan paling mendesak bagi warga saat ini. “Masyarakat sangat merindukan kedamaian agar bisa kembali ke honai dan kebun mereka. Ini adalah tugas kita bersama untuk memastikan rasa aman itu kembali hadir bagi mereka,” tutupnya. (Cornelia)






























































































