JAYAPURA, HarianTerbaruPapua.com – Kinerja PT Air Minum Jayapura menunjukkan tren positif di tengah tantangan daya beli masyarakat dan kebutuhan efisiensi perusahaan. Dalam dua tahun terakhir, perusahaan milik Pemerintah Kabupaten Jayapura dan Pemerintah Kota Jayapura ini tetap mampu memberikan kontribusi Pendapatan Asli Daerah (PAD) kepada kedua pemerintah daerah.
Direktur PT Air Minum Jayapura, Entis Sutisna, mengatakan pada 2025 perusahaan menyetor PAD sekitar Rp1,4 miliar kepada Pemerintah Kabupaten Jayapura dan Rp700 juta kepada Pemerintah Kota Jayapura.
Sementara pada 2026, setoran PAD kepada Pemerintah Kabupaten Jayapura meningkat menjadi sekitar Rp744 juta, sedangkan kepada Pemerintah Kota Jayapura tetap berada di angka Rp700 juta.
“Kalau kita lihat dari angka kenaikan ini memang cukup menggembirakan. Di tengah daya beli masyarakat dan efisiensi pengeluaran, perusahaan masih eksis dan dengan kemampuan sendiri membiayai optimalisasi pelaksanaan tugas yang diberikan pemerintah kota dan kabupaten,” ujar Entis, Rabu (2/9/2026).
Meski nilai PAD dinilai masih relatif kecil, Entis menegaskan kontribusi tersebut menunjukkan perusahaan tetap mampu bertahan sekaligus menghasilkan laba di tengah berbagai keterbatasan.
Menurutnya, peningkatan kontribusi kepada daerah harus diikuti perhatian pemerintah dalam bentuk penyertaan modal maupun dukungan aset, sehingga kapasitas pelayanan perusahaan dapat terus diperluas.
“Harapan kami, dengan adanya kontribusi terhadap PAD, pemerintah kota dan kabupaten juga dapat memberikan perhatian untuk meningkatkan penyertaan modal bagi perkembangan PT Air Minum Jayapura,” katanya.
Entis mengungkapkan, Pemerintah Kota Jayapura selama sekitar lima tahun terakhir secara rutin memberikan penyertaan modal dengan nilai rata-rata sekitar Rp4,5 miliar. Dukungan tersebut digunakan untuk memperluas cakupan pelayanan, salah satunya di wilayah Muara Tami.
Sementara Pemerintah Kabupaten Jayapura, yang merupakan pemegang saham mayoritas, tengah menyiapkan pengembangan pelayanan baru.
Berdasarkan komunikasi dengan Sekretaris Daerah Kabupaten Jayapura, terdapat rencana pembangunan jaringan air bersih dari kawasan Pos 7 menuju Kantor Bupati Jayapura yang akan dibiayai oleh Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Jayapura.
“Kontribusi dalam bentuk aset juga menjadi salah satu hal yang sangat kami butuhkan. Kami berterima kasih atas perhatian Bapak Bupati dan Bapak Wali Kota yang konsen membina perkembangan PT Air Minum Jayapura,” jelasnya.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, PT Air Minum Jayapura juga mencatat hasil positif dari sisi kinerja perusahaan.
Entis menyebut berdasarkan evaluasi kinerja oleh BPKP Provinsi Papua pada Agustus 2026, PT Air Minum Jayapura kembali memperoleh penilaian dalam kategori perusahaan sehat dan berkinerja baik.
Menurutnya, capaian tersebut tidak terlepas dari dukungan pemerintah daerah selaku pemegang saham.
“Ini merupakan sesuatu yang menggembirakan dan berkat dukungan Bapak Bupati Jayapura dan Bapak Wali Kota sebagai pemegang saham yang secara rutin memberikan arahan, pembinaan maupun dukungan bagi kelangsungan usaha PT Air Minum Jayapura,” ujarnya.
Selain bisnis utama penyediaan air bersih, PT Air Minum Jayapura juga mulai mengembangkan inovasi melalui produksi Air Minum Dalam Kemasan (AMDK).
Namun, pengembangan usaha tersebut masih menghadapi sejumlah kendala, mulai dari sumber air baku hingga keterbatasan mesin produksi.
Entis mengatakan sebagian kebutuhan air produksi masih mengandalkan sumur bor dan kerja sama dengan pemegang hak ulayat di sejumlah titik.
“Kendala utama saat ini adalah kami belum mendapatkan izin maupun kerja sama dengan pemilik hak ulayat di beberapa lokasi,” katanya.
Persoalan lain adalah usia mesin produksi yang telah mencapai sekitar lima tahun. Saat ini perusahaan hanya memiliki satu lini produksi dengan kapasitas sekitar 750 hingga 1.000 karton per hari.
Padahal, menurut Entis, peluang pasar AMDK di Jayapura masih cukup besar.
Jika kapasitas produksi dapat ditingkatkan hingga 1.000 karton per hari, perusahaan berpotensi memperoleh tambahan pendapatan yang cukup signifikan.
Saat ini, dari bisnis AMDK, perusahaan disebut mampu menghasilkan keuntungan bersih sekitar Rp50 juta per bulan, setelah memperhitungkan biaya tenaga kerja dan bahan baku.
“Dengan adanya AMDK ini, kami ingin membuktikan kepada pemerintah daerah bahwa ada inovasi dari tukang ledeng untuk menghadirkan alternatif air minum dalam kemasan bagi masyarakat,” ujarnya.
PT Air Minum Jayapura saat ini melayani kebutuhan air bersih masyarakat di wilayah Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura dengan jumlah pegawai sekitar 204 orang.
Entis menilai pengembangan usaha, baik melalui perluasan jaringan air bersih maupun AMDK, menjadi penting untuk meningkatkan pendapatan perusahaan. Sebab, semakin besar laba perusahaan, semakin besar pula potensi kontribusi yang dapat diberikan kepada pemerintah daerah dalam bentuk PAD.
“Besarnya PAD juga tergantung pada laba bersih perusahaan. Jadi ketika laba meningkat, kontribusi kepada pemerintah daerah juga akan meningkat,” katanya.
Kondisi ini sekaligus menempatkan pemerintah daerah pada posisi strategis. Di satu sisi menuntut perusahaan menghasilkan PAD, tetapi di sisi lain perusahaan membutuhkan investasi agar kapasitas pelayanan dan pendapatannya bisa tumbuh.
Karena itu, peningkatan penyertaan modal, pembangunan jaringan, dukungan aset, serta penyelesaian persoalan sumber air baku menjadi pekerjaan penting agar PT Air Minum Jayapura tidak hanya bertahan sebagai penyedia layanan publik, tetapi juga mampu berkembang sebagai perusahaan daerah yang sehat dan produktif.
Dengan status perusahaan yang dinilai sehat dan kinerja PAD yang mulai meningkat, tantangan berikutnya adalah memastikan dukungan investasi pemerintah benar-benar mampu dikonversi menjadi perluasan pelayanan, peningkatan laba, dan pada akhirnya PAD yang lebih besar bagi Kota dan Kabupaten Jayapura. (Cornelia)






























































































