TOLIKARA, HarianTerbaruPapua.com – Setelah hampir dua tahun, proses penyelesaian adat atas kecelakaan tunggal yang terjadi di Distrik Poganeri, Kabupaten Tolikara, Papua Pegunungan, akhirnya mencapai perdamaian.
Pembayaran denda adat sekaligus prosesi perdamaian berlangsung pada Rabu (26/8/2026) sekitar pukul 15.00 WIT, di Lapangan Pendidikan Karubaga. Perdamaian tersebut melibatkan pihak keluarga korban dan massa pendukung Irinus Wanimbo, SH., dan Arson Kogoya, S. IP.
Kecelakaan Tunggal itu terjadi pada Sabtu, 23 November 2024, sekitar pukul 11.20 WIT, ketika sebuah truk bernomor polisi PA 8957 AK melaju di Jalan Trans Karubaga–Wamena, Distrik Poganeri.
Truk tersebut mengangkut massa pendukung Irinus Wanimbo dan Arson Kogoya yang baru kembali dari kampanye akbar di Karubaga menuju Distrik Bokondini Dapil III dan wilayah sekitarnya. Dalam perjalanan, kendaraan tersebut disebut melaju dengan kecepatan melebihi batas hingga akhirnya mengalami kecelakaan.
Peristiwa itu mengakibatkan enam orang meninggal dunia, sedangkan 43 orang lainnya mengalami luka ringan dan luka berat.
Sebagai bagian dari penyelesaian melalui mekanisme adat, disepakati pembayaran 30 ekor babi untuk setiap korban meninggal, ditambah uang sebesar Rp300 juta per kepala.

Dengan enam korban meninggal dunia, total kewajiban adat yang diselesaikan mencapai 220 ekor babi dan uang Rp2,1 miliar.
Ketua DPRK Tolikara, Meinus Y. Wenda, S.IP., mengungkapkan rasa syukur karena proses penyelesaian yang cukup panjang tersebut akhirnya dapat dituntaskan dengan aman dan tanpa ada apa apa.
“Saya selaku Ketua DPRK Tolikara merasa bersyukur kepada Tuhan karena dari pergumulan ini, berkat-berkat datang mengalir sangat luar biasa, baik itu sumbangan babi, sumbangan uang, tenaga, maupun waktu,” ujar Meinus.
Menurut Meinus, penyelesaian tersebut tidak terlepas dari dukungan masyarakat Tolikara. Ia menyebut bantuan datang dari masyarakat di 46 distrik dan 541 kampung dalam berbagai bentuk.
“Banyak sekali yang datang kepada kami sehingga kami bisa membayar kepala manusia 30 ekor babi dan uang Rp 300 juta,” katanya.
Selain pembayaran denda adat, rangkaian perdamaian juga diisi dengan acara syukuran dan bakar batu. Kegiatan tersebut menjadi bentuk ungkapan syukur sekaligus kebersamaan masyarakat setelah proses penyelesaian dapat dilakukan.

Meinus menilai dukungan masyarakat menjadi bukti bahwa persoalan berat dapat dihadapi secara bersama-sama ketika masyarakat bergandengan tangan.
“Saya merasa, manusia berpikir tidak ada uang, tidak ada apa-apa. Tetapi berkat dari Tuhan melimpahkan kepada kami sangat luar biasa. Jadi, saya mengucap syukur kepada Tuhan yang pertama,” tuturnya.
Ia juga menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada seluruh masyarakat yang telah ikut membantu proses penyelesaian tersebut.
“Yang kedua, saya menyampaikan terima kasih kepada seluruh pendukung kami dari 46 distrik dan 541 kampung yang sudah menyumbangkan uang, babi, tenaga. Luar biasa memberikan berkat kepada kami sehingga kami bisa menyelesaikan masalah,” ujar Meinus.
Dalam keterangannya, Meinus juga menyebut persoalan tersebut berkaitan dengan kewajiban pembayaran terhadap dua kepala manusia yang sebelumnya seharusnya diselesaikan.
“Saya selaku ketua partai PDIP perjuangan periode 2019-2024 yang memberikan rekomendasi kepada calon untuk maju sebagai calon bupati dan wakil Bupati kepada Irinus Wanimbo dan arson Kogoya maka saya dengan teman teman DPRK bahkan DPR provinsi bayar dua kepala manusia seharusnya dibayarkan kemarin,” katanya.
Meski nilai penyelesaian adat yang dibayarkan cukup besar, Meinus memastikan seluruh proses berlangsung tertib. Ia menegaskan tidak terjadi gesekan antara pihak-pihak yang terlibat.
“Dalam pembayaran itu, semua tidak ada gesekan, tidak ada masalah. Semua berjalan aman, tertib, terkendali,” tegasnya.
Perdamaian Jadi Momentum Pemulihan
Penyelesaian adat di Lapangan Pendidikan Karubaga menjadi momentum penting bagi keluarga korban dan masyarakat untuk mengakhiri persoalan yang muncul akibat kecelakaan tersebut.

Melalui pembayaran denda adat, syukuran, dan bakar batu, masyarakat tidak hanya menjalankan mekanisme penyelesaian berdasarkan adat, tetapi juga memperkuat kembali hubungan sosial dan kebersamaan di tengah masyarakat Tolikara.
Dukungan yang datang dari berbagai distrik dan kampung menunjukkan besarnya peran gotong royong masyarakat dalam membantu penyelesaian persoalan tersebut.
Dengan selesainya proses pembayaran pada 26 Agustus 2026, perdamaian diharapkan menjadi titik akhir dari persoalan kecelakaan tunggal yang terjadi di Distrik Poganeri pada 2024 sekaligus membuka ruang bagi seluruh pihak untuk kembali membangun kehidupan masyarakat secara damai.
Catatan redaksi: Berdasarkan keterangan yang diterima, korban meninggal dunia disebut berjumlah enam orang dan korban luka sebanyak 43 orang. Dalam narasi awal juga disebutkan truk mengangkut 30 orang. Karena terdapat perbedaan angka dalam keterangan tersebut, redaksi mempertahankan informasi sebagaimana disampaikan dan tidak menambahkan fakta yang belum terverifikasi. (Kosay Jhesy Kogoya)


























































































