JAYAPURA, HarianTerbaruPapua.com – Jaringan Komunikasi Oikumene Papua (JAKOP) resmi dideklarasikan dalam sebuah acara yang berlangsung di salah satu hotel di Kota Jayapura, Kamis (27/11/2025). Deklarasi ditandai dengan penabuhan tifa oleh Pendiri JAKOP, Pdt. MPA Maury, yang sekaligus membuka kegiatan secara resmi.

Acara ini dihadiri pendiri JAKOP, jajaran Asosiasi Pendeta Indonesia (API), tokoh agama lintas denominasi, pengurus jaringan, serta ratusan anggota yang hadir sebagai bentuk dukungan terhadap lahirnya wadah baru kerja sama oikumene di Tanah Papua.
Pembacaan Naskah Deklarasi dilakukan oleh Koordinator JAKOP, Pdt. Nabot Manufandu. Dalam kesempatan itu, ia menyampaikan bahwa deklarasi JAKOP lahir dari kesadaran bersama akan pentingnya persatuan gereja-gereja serta kebutuhan pelayanan yang inklusif bagi seluruh masyarakat gereja di Papua.

Dalam deklarasinya, JAKOP menetapkan lima poin komitmen utama:
- Menjadikan nilai-nilai Injil sebagai dasar moral dalam setiap aktivitas pelayanan dan jaringan.
- Memperkuat ikatan oikumene sebagai wujud kesatuan tubuh Kristus dan memperkokoh persaudaraan lintas denominasi di tingkat lokal, nasional, dan dunia.
- Menanamkan nilai-nilai cinta kasih, persaudaraan dan paradigma inklusif melalui program dan kegiatan yang relevan.
- Memberikan kontribusi nyata bagi keberlanjutan pembangunan di Tanah Papua melalui sumbangsih pemikiran dan perbuatan.
- Mendorong kerja-kerja kolaboratif dengan pemerintah pusat dan daerah di berbagai bidang untuk kesejahteraan umat gereja dan masyarakat Papua menuju Indonesia Emas 2045.

Naskah deklarasi kemudian diteguhkan melalui prosesi penandatanganan oleh Koordinator JAKOP Pdt. Nabot Manufandu, Sekretaris Pdt. Albert Lengkong, dan Bendahara Nikodemus Kabak. Prosesi ini dilanjutkan dengan doa pengutusan yang dipimpin Pdt. Mathan Ayorbaba.
Pendiri JAKOP, Pdt. MPA Maury, menegaskan bahwa kehadiran jaringan ini dilandasi kebutuhan umat untuk memiliki wadah kolaborasi lintas gereja yang lebih kuat dan terstruktur. Menurutnya, JAKOP hadir dengan visi besar untuk melayani Papua secara bertahap, dimulai dari Kota Jayapura, lalu melebar ke seluruh wilayah Papua, regional Indonesia Timur, hingga berpotensi ke tingkat nasional dan internasional.
“Fungsi utama JAKOP adalah membangun jaringan. Gereja yang satu terhubung dengan gereja lainnya, persekutuan satu bersinergi dengan persekutuan lainnya,” ujar Pdt. Maury.

Ia menjelaskan, bahwa dasar keberadaan JAKOP:
- Jaringan – membangun hubungan dan kerja sama lintas persekutuan dan denominasi.
- Komunikasi – ruang berbagi, berdiskusi, bertukar pikiran, dan berkolaborasi untuk kepentingan bersama.
- Oikumene – memperkuat persatuan tubuh Kristus tanpa membatasi pada satu gereja atau denominasi tertentu.
“Kami hadir bukan untuk memecah, tetapi untuk bekerja sama, menjunjung tinggi UUD 1945 dan Pancasila, serta meninggikan firman Allah. Kami bekerja bukan hanya untuk umat Kristen, tetapi untuk semua yang membutuhkan,” tegasnya.
Dalam arahanya, Pdt. Maury juga berpesan kepada pengurus terpilih agar tidak bekerja secara individual maupun sektoral. Ia menekankan pentingnya prinsip kolaborasi sebagaimana doa Yesus dalam Yohanes 17:21: “Aku mau supaya mereka semua menjadi satu.”
“Kalau Yesus sendiri ingin kita menjadi satu, masa kita justru memisahkan diri? Mulai hari ini, mari kita melebur menjadi satu tubuh, satu nusa, satu bangsa, satu bahasa yaitu bahasa kasih,” ujarnya.

Menurutnya, masing-masing pengurus memiliki talenta dan kelebihan yang bila disinergikan akan menghasilkan kekuatan besar bagi JAKOP. Ia menegaskan bahwa JAKOP menghormati kepemimpinan pemerintah pusat dan daerah, serta terbuka bagi semua denominasi gereja.
“JAKOP adalah Indonesia, JAKOP adalah NKRI, dan JAKOP adalah milik Tuhan. Kami mengajak seluruh hamba Tuhan mendoakan, mendukung, dan bila berkenan, bergabung bersama JAKOP,” imbuhnya.

Deklarasi JAKOP ini menjadi penanda lahirnya jaringan oikumene baru yang diharapkan dapat memperkuat persatuan gereja-gereja di Papua. Melalui pendekatan kolaboratif lintas denominasi serta dukungan pemerintah, JAKOP menargetkan diri menjadi wadah komunikasi, pelayanan, dan kerja bersama yang berdampak luas bagi masyarakat.
Dengan komitmen yang telah ditegaskan, JAKOP kini bersiap menjalankan berbagai program pelayanan yang inklusif demi mewujudkan kesejahteraan, persatuan, dan kemuliaan Tuhan di Tanah Papua, Indonesia, dan dunia. (drlm)
































































































