JAYAPURA, HarianTerbaruPapua.com – Ikatan Wanita Sulawesi Tenggara (IWST) Provinsi Papua menggelar Seminar Parental Bonding dengan tema “Peran Ayah Dalam Membentuk Generasi Tangguh Wujudkan Generasi Emas Indonesia”. Kegiatan ini berlangsung di Aula Asrama Haji Kotaraja, Kota Jayapura, Papua, Minggu (11/01/2026).
Seminar tersebut menghadirkan Konsultan Pendidikan dan Parenting yang juga Ketua Umum Lingkar Ayah Indonesia, Rizqi Tajuddin, sebagai pembicara utama. Materi yang disampaikan berfokus pada pentingnya peran ayah dalam proses pengasuhan anak sebagai fondasi pembentukan karakter dan ketangguhan generasi masa depan.

Wakil Ketua I IWST Provinsi Papua, Mufreni, mengatakan bahwa kegiatan ini bertujuan untuk menyamakan persepsi seluruh pihak yang terlibat dalam dunia pendidikan dan keluarga mengenai urgensi peran ayah dalam pengasuhan anak. Menurutnya, pengasuhan yang tepat akan menciptakan kondisi ideal bagi tumbuh kembang anak secara optimal.
“Melalui seminar parental bonding ini, kami ingin mempererat silaturahmi, khususnya antarwanita Sulawesi Tenggara dan para peserta yang hadir. Dengan adanya seminar ini, insyaallah kita akan lebih memahami pola asuh yang tepat, baik sebagai ayah maupun ibu, dalam mendidik putra-putri kita ke depan,” ujar Mufreni.

Ia menjelaskan, peserta seminar berasal dari anggota IWST Papua serta undangan dari berbagai kalangan, termasuk pengurus Kerukunan Keluarga Sulawesi Tenggara (KKST). Kegiatan ini juga menjadi program perdana IWST Papua pasca pelaksanaan musyawarah wilayah (Muswil) dan awal rangkaian kegiatan organisasi di tahun 2026.
“Ke depan, IWST Papua akan terus menghadirkan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat luas. Kami berharap IWST Papua semakin eksis di bawah kepemimpinan Ibu Sadaria dan mampu memberikan kontribusi positif,” katanya.
Mufreni juga menyoroti tantangan pengasuhan di era digital. Menurutnya, derasnya arus media sosial menuntut orang tua untuk tetap hadir secara nyata dalam kehidupan anak-anak mereka.
“Kami berharap melalui seminar ini, semakin banyak orang tua memahami pentingnya pola asuh yang seimbang. Di tengah tingginya penggunaan media sosial, kehadiran orang tua, baik ayah maupun ibu, tetap menjadi hal yang utama bagi anak-anak,” tambahnya.

Sementara itu, Rizqi Tajuddin dalam pemaparannya menekankan konsep koneksi, diskoneksi, dan rekoneksi dalam hubungan keluarga. Ia menyebut bahwa salah satu persoalan utama dalam keluarga saat ini adalah terjadinya diskoneksi atau ketidakterhubungan antara anggota keluarga, khususnya antara orang tua dan anak.
“Ketika terjadi diskoneksi, secara fitrah manusia akan mencari koneksi lain. Anak bisa mencari koneksi pada gadget, teman, atau pihak lain. Begitu juga suami dan istri. Inilah yang perlu kita waspadai,” jelas Rizqi.

Ia menegaskan pentingnya membangun kembali hubungan atau rekoneksi antara ayah dan anak, ibu dan anak, serta antara suami dan istri. Menurutnya, rekoneksi dapat mencegah berbagai masalah sosial dan emosional dalam keluarga.
Selain itu, Rizqi juga mengingatkan orang tua agar tidak menetapkan ekspektasi yang terlalu tinggi kepada anak maupun pasangan. Harapan yang tidak realistis, kata dia, justru dapat membuat anak dan orang tua sama-sama merasa lelah.
“Sesuaikan harapan dengan kondisi hari ini. Jika anak mampu sampai di titik tertentu, beri harapan yang sesuai. Jangan terlalu tinggi karena itu bisa membuat semua pihak kelelahan,” pesannya.

Seminar Parental Bonding ini turut dihadiri Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Tenggara (KKST) Provinsi Papua, para penasihat KKST, ketua-ketua paguyuban, para donatur, serta seluruh peserta seminar. Kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran kolektif akan pentingnya peran ayah dan keharmonisan keluarga dalam membentuk generasi emas Indonesia. (drl)































































































