JAYAPURA, HarianTerbarupapua.com – Cabang Musabaqah Tartil Al-Qur’an dan Tilawah Al-Qur’an menjadi salah satu perlombaan yang digelar pada hari pertama penyisihan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) XXXI Tingkat Provinsi Papua, Rabu (15/7/2026), di Arena Utama, Kompleks Masjid Agung Al-Aqsha Sentani, Kabupaten Jayapura.
Majelis Tartil dan Tilawah dipimpin oleh Anang Firdaus, bersama tim dewan hakim yang bertugas melakukan penilaian berdasarkan empat aspek utama, yaitu tajwid, fashahah, lagu atau irama, serta kualitas suara. Keempat komponen tersebut menjadi tolok ukur dalam menentukan peserta terbaik pada masing-masing golongan lomba.
Pada MTQ XXXI Provinsi Papua, cabang Tartil Al-Qur’an diikuti 13 peserta, sedangkan cabang Tilawah Al-Qur’an diikuti 50 peserta yang terbagi dalam golongan anak-anak, remaja, dan dewasa.
Berdasarkan jadwal pelaksanaan, penyisihan Tartil Al-Qur’an berlangsung pada Rabu (15/7/2026) pukul 08.00–12.00 WIT di Arena Utama. Pada hari yang sama, penyisihan Tilawah Al-Qur’an Golongan Anak-anak dilaksanakan pukul 13.30–17.00 WIT, sedangkan Tilawah Al-Qur’an Golongan Dewasa digelar pada malam hari pukul 19.30–21.00 WIT, juga di Arena Utama. Adapun penyisihan Tilawah Al-Qur’an Golongan Remaja dijadwalkan berlangsung pada Kamis (16/7) di lokasi yang sama.
Ketua Majelis Tartil dan Tilawah, Anang Firdaus, yang merupakan akademisi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Fattahul Muluk Papua, menjelaskan proses penilaian serta memberikan pandangannya mengenai kualitas peserta yang tampil pada MTQ XXXI Tingkat Provinsi Papua.
Anang Firdaus mengatakan kualitas peserta cabang Tartil, khususnya golongan anak-anak, sangat dipengaruhi oleh pembinaan yang dilakukan secara berkelanjutan. Menurutnya, kemampuan membaca Al-Qur’an peserta yang mendapat pembinaan rutin tampak berbeda dibandingkan peserta yang hanya berlatih menjelang perlombaan.
“Pagi ini kita masih di bidang Tartil, belum Tilawah. Jadi Tartil tingkat anak-anak, dan juga demikian nanti di tingkat Tilawah golongan anak-anak, yang sering kali menjadi problem adalah karena mereka memang masih anak. Kemudian juga kemampuan baca, kelancaran baca itu juga ada beberapa yang memang perlu untuk selalu dibimbing. Makanya kata kuncinya sebenarnya adalah di dalam keberlanjutan atau konsistensi dalam pembinaan,” ujar Anang.
Ia menilai peserta yang dibina secara berkesinambungan lebih menonjol dari segi kualitas bacaan maupun penguasaan lagu.
“Kelihatan sekali peserta yang kemudian betul-betul dibina secara berkelanjutan dengan peserta yang kurang mengalami pembinaan secara berkelanjutan, tentunya dengan pembina atau pelatih yang punya kompetensi. Itu kelihatan sekali, baik dari kelancarannya kemudian sampai variasi lagunya, menata iramanya, itu sangat kentara sekali,” katanya.
Anang berharap LPTQ Provinsi Papua dapat mendorong seluruh LPTQ kabupaten dan kota untuk menerapkan pola pembinaan yang berkesinambungan.
“Sering kali yang terjadi itu menjelang event seperti ini baru kemudian dilatih, kemudian ditambah pelatihan dan seterusnya. Idealnya adalah kemampuan itu selalu dijaga secara konsisten. Mungkin memang menjelang lomba atau menjelang musabaqah seperti ini kemudian intensitasnya diperbanyak dan ditingkatkan,” ujarnya.
Menurutnya, kesalahan yang paling banyak ditemukan pada peserta anak-anak adalah salah membaca ayat atau kurang lancar membaca Al-Qur’an. Namun hal tersebut dapat diminimalkan melalui pembinaan yang berkelanjutan.
“Kebanyakan dari anak-anak itu yang menjadi sering kesalahan, salah baca atau tidak lancar. Kemudian yang dimaklumi adalah nafas, itu wajar karena masih anak-anak. Tapi intinya adalah semua itu bisa diminimalisir ketika dilakukan pembinaan yang berkelanjutan, sustainable,” jelasnya.
Selain aspek teknis, ia menilai kesiapan mental juga menjadi faktor penting dalam menentukan kualitas penampilan peserta.
“Semakin anak itu sering dilatih atau semakin sering untuk ditingkatkan kemampuannya, bahkan kalau perlu dalam semacam simulasi yang sifatnya seperti lomba, itu akan membuat dia lebih secara mental lebih terlatih dan akhirnya mampu menguasai dirinya supaya enggak grogi, enggak demam panggung. Karena kebanyakan ketika dia demam panggung dan grogi, itu sering kali terjadi kesalahan, baik salah baca atau bahkan sampai lompat ayat,” ungkapnya.
Terkait penilaian, Anang memastikan dewan hakim bekerja secara objektif karena seluruh proses telah dipersiapkan sejak awal, mulai dari seleksi hakim hingga penyamaan persepsi dalam setiap bidang penilaian.
“Objektivitas Dewan Hakim dalam menilai sesuai dengan kompeten dan bagian atau bidang yang diamanahkan, ini bisa dipertanggungjawabkan. Karena pertama, dalam perekrutan Dewan Hakim selain dilihat kompetensi yang bersangkutan, juga dilihat rekam jejak dari yang bersangkutan. Yang kedua, Dewan Hakim telah diberikan sumpah dan juga diberikan orientasi. Yang ketiga, masing-masing telah melakukan koordinasi tiap bidang sehingga antara Dewan Hakim satu dan yang lain tidak terjadi perbedaan persepsi yang terlalu jauh karena sama-sama membidangi bidang yang sama dan punya ukuran standar yang sama,” tegas Anang.
Menurut Anang, jika terdapat perbedaan penilaian antardewan hakim, hal tersebut akan diselesaikan melalui rapat majelis.
“Memang harus diakui, pemahaman atau interpretasi dari kesalahan yang dilakukan peserta sering kali juga terjadi sedikit perbedaan. Tapi itu tidak ada masalah asalkan mereka nanti semua punya catatan dan itu akan diselesaikan di rapat majelis. Jadi rapat majelis itulah yang kemudian akan berusaha menengahi kalau di antara Dewan Hakim terjadi perbedaan yang signifikan,” katanya.
Di akhir wawancara, Anang berharap MTQ menjadi puncak dari proses pembinaan Al-Qur’an yang berlangsung secara berkelanjutan di seluruh Papua.
“Harapannya ke depan, MTQ ini adalah semacam ultimate-nya, puncak dari pembinaan yang berkelanjutan. Program-program LPTQ itu bisa sampai ke bawah, dari provinsi menuju kabupaten/kota, dari kabupaten/kota menuju distrik, dari distrik ke lembaga-lembaga pendidikan, TPQ, pesantren, madrasah, dan seterusnya. Sehingga ketika MTQ ini dilaksanakan, kita betul-betul akan menampilkan peserta-peserta yang kompetitif,” pungkasnya.
Majelis Tartil dan Tilawah yang dipimpin Anang Firdaus selaku Ketua Majelis yang sekaligus bertugas pada bidang tajwid, dalam penilaian ia didampingi Asep Burhanuddin, dan Burhanuddin, pada bidang tajwid; KH. Mansur Al Kaf, Muhammad Ilyas, dan KH. Hasan Asy’ari pada bidang fashahah; Maryati, Nurhasanah, dan Sutrisno, sebagai penilai bidang lagu/irama dan suara; serta Makmun Rosyidi, Nirwana, dan Fatahuddin Rumfot, sebagai penilai bidang suara. Majelis ini juga didukung Firdaus Failu, sebagai sekretaris, Wiryanto, sebagai panitera, serta Arif Seto Purnomo, sebagai petugas teknologi informasi (IT) untuk mendukung kelancaran proses penilaian. (Rilis)
























































































