TOLIKARA, HarianTerbaruPapua.com – Berbekal hasil kebun sendiri, Jemaat Gereja Injili di Indonesia (GIDI) Efesus Mandura, Klasis Konda, Wilayah Toli, menggelar bakar batu jagung atau barapen untuk menggalang dana awal pembangunan gedung gereja, Jumat (9/10/2026). Kegiatan ini menjadi bukti semangat kemandirian dan gotong royong jemaat dalam mewujudkan rumah ibadah yang lebih layak.
Jagung yang digunakan dalam kegiatan tersebut merupakan hasil pertanian jemaat dari lahan yang dibuka dan dikelola bersama. Meski memiliki keterbatasan lahan, jemaat tetap berupaya mengambil bagian dalam pembangunan gereja melalui hasil kerja keras mereka sendiri.
Inisiatif tersebut mendapat dukungan dari intelektual Jemaat GIDI Efesus Mandura yang juga menjabat sebagai Ketua DPRK Tolikara, Meinus Y. Wenda mengapresiasi semangat jemaat yang menjadikan hasil pertanian sebagai modal awal untuk melanjutkan pembangunan gedung gereja.

“Pada kesempatan ini, Jumat, 9 Oktober 2026, Jemaat GIDI Efesus Mandura melaksanakan kegiatan bakar batu jagung dalam rangka penggalangan dana awal untuk pembangunan gedung gereja GIDI Efesus Mandura,” ujar Meinus.
Menurutnya, kegiatan ini dilandasi rasa syukur sekaligus tanggung jawab untuk meneruskan pembangunan gereja yang telah dirintis oleh para pendahulu mereka. Kondisi bangunan yang mulai mengalami kerusakan di beberapa bagian mendorong jemaat untuk mengambil langkah nyata demi menghadirkan tempat ibadah yang lebih layak.
“Kami bersyukur karena orang tua kami sudah membangun gereja ini. Namun, ketika melihat kondisi bangunan gereja yang sudah mengalami kerusakan di beberapa bagian, kami merasa perlu mengambil langkah untuk melanjutkan pembangunan,” katanya.
Meinus menjelaskan, keterbatasan lahan pertanian tidak menyurutkan semangat jemaat untuk berkontribusi. Melalui pembukaan dan pengelolaan kebun, mereka menghasilkan jagung yang kemudian dimanfaatkan sebagai bagian dari upaya penggalangan dana pembangunan gereja.

“Jemaat Mandura memiliki keterbatasan lahan, tetapi mereka tetap bekerja melalui kebun dan memanfaatkan hasilnya untuk kegiatan penggalangan dana awal pembangunan gereja. Hasil kerja mereka sangat luar biasa,” ungkapnya.
Sebagai intelektual sekaligus anggota jemaat, Meinus menyatakan dukungannya terhadap upaya tersebut. Ia berharap semangat kerja bersama yang telah ditunjukkan dapat terus dijaga hingga pembangunan gedung gereja benar-benar terwujud.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para gembala, ketua majelis, serta seluruh warga GIDI, khususnya di Klasis Konda dan Wilayah Toli, yang telah memberikan dukungan dalam bentuk uang, tenaga, waktu, maupun partisipasi lainnya.

“Atas nama jemaat, kami menyampaikan terima kasih kepada seluruh warga GIDI, khususnya di Klasis Konda dan seluruh Wilayah Toli, yang telah memberikan sumbangan dan berpartisipasi secara luar biasa. Ada yang memberikan uang, tenaga, dan waktu untuk mendukung pembangunan gereja ini,” ujarnya.
Meinus berharap dukungan tersebut terus berlanjut sehingga pembangunan gedung GIDI Efesus Mandura dapat berjalan lancar sesuai rencana pada tahun mendatang. Menurutnya, keberhasilan pembangunan tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan dana dan material, tetapi juga oleh persatuan, kesatuan, serta komitmen seluruh jemaat.
“Pembangunan gereja ini akan berjalan dengan baik apabila kita tetap bersatu dan memiliki satu pikiran. Persatuan dan kesatuan menjadi kekuatan untuk membangun gereja ini. Fondasi utama kita adalah Yesus Kristus,” tegasnya.

Kegiatan bakar batu jagung ini tidak sekadar menjadi sarana penggalangan dana, tetapi juga mencerminkan nilai kebersamaan, kemandirian, dan pelayanan dalam kehidupan bergereja. Hasil pertanian yang dikelola bersama menjadi wujud nyata kontribusi jemaat dalam mendukung pembangunan rumah ibadah.
Dengan semangat gotong royong dan dukungan berbagai pihak, Jemaat GIDI Efesus Mandura berharap pembangunan gedung gereja dapat terlaksana dengan baik dan menjadi tempat ibadah sekaligus pembinaan iman bagi seluruh jemaat pada masa mendatang.
Bagi jemaat Efesus Mandura, pembangunan gereja bukan hanya tentang mendirikan sebuah bangunan, melainkan juga tentang menjaga persatuan dan memperkuat iman. Sebagaimana ditegaskan Meinus, Yesus Kristus adalah fondasi utama, sementara persatuan dan kesatuan menjadi kekuatan untuk mewujudkan pembangunan gereja. (Kosay Jhesy Kogoya)































































































