JAYAPURA, HarianTerbaruPapua.com – Ketersediaan uang Rupiah yang layak edar hingga ke wilayah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T) bukan sekedar menjalankan fungsi system pembayaran, tetapi juga menjadi bagian penting dalam menjaga aktivitas ekonomi Masyarakat di Tanah Papua. Di tengah tantangan geografis yang kompleks, Bank Indonesia terus memperkuat distribusi uang tunai agar seluruh Masyarakat memperoleh akses yang sama terhadap Rupiah sebagai alat pembayaran sah.
Papua merupakan salah satu wilayah dengan karakteristik geografis paling menantang di Indonesia, banyak daerah hanya dapat dijangkau melalui jalur darat yang ekstrem, transportasi laut, bahkan pesawat perintis. Kondisi tersebut membuat distribusi uang layak edar membutuhkan biaya, waktu dan sinergi yang kuat antar instansi.
Melalui Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua berbagai program distribusi uang tunai terus diperkuat, salah satunya melalui Kas Keliling Luar Kota (KKLK) yang secara rutin menjangkau wilayah-wilayah 3T. Program tersebut menjadi salah satu bentuk nyata kehadiran Bank Indonesia dalam memastikan Masyarakat agar dapat memperoleh uang Rupiah yang layak edar untuk mendukung aktivitas perekonomian di daerah.
Bank Indonesia Papua mencatat sepanjang bulan Februari 2026 terlaksana sebanyak 3 kali Kas Keliling Luar Kota (KKLK) untuk memenuhi kebutuhan Masyarakat terhadap uang Rupiah untuk aktivitas perekonomian sehari-hari.

Kegiatan Kas Keliling Luar Kota pada tanggal 3-4 Februari 2026 merupakan Langkah pejuang rupiah dalam mendorong pemenuhan kebutuhan uang rupiah di Waropen setelag mendarat di Bandara Udara Botawa menggunakan pesawat caravan. KKLK yang dilaksanakan di Tanah Seribu Bakau yang difokuskan dengan titik penukaran di Pasar Uri dan Bank Papua.
Masyarakat Waropen sangat mengapresiasi kehadiran Bank Indonesia disambut dengan penuh antusias kegiatan penukaran Uang Tidak Layak Edar (UTLE) mereka menjadi Uang Layak Edar (ULE) sekaligus mendapatkan edukasi terkait Cinta, Bangga, dan Paham (CBP) Rupiah oleh Pegawai Bank Indonesia (Pejuang Rupiah) yang sedang bertugas.
Berikut di Kabupaten Asmat, dalam memenuhi penukaran uang di wilayah 3T, Pejuang Rupiah melaksanakan kegiatan KKLK di Asmat tepatnya di Distrik Atsj pada Tanggal 3-4 Februari 2026. Dengan menempuh 2 kali penerbangan yaitu, dari Jayapura ke Timika lalu ke Asmat, Pejuang Rupiah melanjutkan dengan kapal dari Agats untuk menyebrangi Sungai menuju Atsj.

Kegiatan penukaran uang turut dilakukan edukasi CBP Rupiah terutama terhadap cara merawat uang yang benar, karena Kabupaten Asmat merupakan Kawasan rawa sehingga memiliki kecenderungan udara yang lebih lembap, sehingga dapat menyebabkan uang Rupiah mudah lusuh.
Berikut KKLK di Kabupaten Jayawijaya, Kota Wamena sebagai pusat perekonomian di Papua Pegunungan, seringkali menghadapi tantangan terutama dalam pengendalian inflasi. Harga barang relative tinggi dan pecahan kecil sulit ditemukan di pasar tradisional.
Pejuang Rupiah hadir di Wamena pada tanggal 10-11 Februari 2026 guna memenuhi kebutuhan Masyarakat maupun perdagangan terhadap Uang Pecahan Kecil (UPK) serta edukasi CBP Rupiah agar Masyarakat dapat memanfaatkan layanan penukaran uang yang tersedia di bank secara terjadwal di setiap minggu.
Hal ini diharapkan dapat berdampak secara langsung terhadap daya beli dan strategi penentuan harga bagi pelaku usaha di pasar karena distribusi uang pecahan kecil yang cukup untuk kebutuhan transaksi jual-beli setiap harinya.

Bank Indonesia juga mengajak Masyarakat untuk selalu merawat Rupiah dengan perinsip 5J yaitu, Jangan Dilipat, Jangan Dicoret, Jangan Diremas, Jangan Distapler dan Jangan Dibasahi. Selain itu Masyarakat diharapkan untuk berbelanja secara bijak sesuai kebutuhan sehingga stabilitas harga tetap terjaga.
Pada KKLK selanjutnya di Maret 2026, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua menuju ke Kabupaten Keerom, kegiatan tersebut menempuh jalur darat dengan medan yang cukup menantang. Selain menyediakan layanan penukaran uang, bank Indonesia juga memberikan edukasi kepada Masyarakat melalui program Cinta, Bangga, dan Paham (CBP) Rupiah.
KKLK juga dilakukan di Kabupaten Supioari khususnya di Supiori Selatan, Bank Indonesia Kembali menekankan pentingnya pemerataan distribusi uang layak edar sekaligus meningkatkan pemahaman Masyarakat mengenai Rupiah sebagai alat pembayaran sah.

Di Pegunungan Papua Tengah, yang meliputi Kabupaten Paniai, Deiyai dan Dogiyai wilayah yang memiliki akses terbatas menjadi perhatian khusus karena minimnya layanan perbankan dan tingginya peggunaan transaksi tunai.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua, Warsono menjelaskan kondisi tersebut menyebabkan uang beredar lebih lama dan cepat mengalami kerusakan, namun tetap digunakan dalam aktivitas ekonomi Masyarakat sehari-hari. Hal ini menjadi dorongan bagi “Pejuang Rupiah” untuk terus memperkuat distribusi uang tunai serta memberikan edukasi.
Kedepan Bank Indonesia akan terus memperluas jangkauan layanan kas melalui sinergi dengan pemerintah daerah dan perbankan guna memastikan Rupiah hadir di seluruh pelosok negeri, termasuk di wilayah 3T. (Redaksi)























































































