SENTANI, HarianTerbaruPapua.com – Sejumlah tokoh adat di Kabupaten Jayapura menyerukan seluruh masyarakat untuk menjaga keamanan dan tidak mudah terprovokasi oleh ajakan yang berpotensi memicu aksi anarkis menjelang peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia.
Seruan tersebut disampaikan dalam konferensi pers di Sentani, Rabu (12/8/2026), menyikapi rencana aksi demonstrasi yang disebut akan digelar Komite Nasional Papua Barat (KNPB) pada 15 Agustus 2026.
Para tokoh adat menegaskan, penyampaian pendapat merupakan hak masyarakat dalam kehidupan demokrasi. Namun, kebebasan tersebut harus dijalankan secara tertib, damai, santun dan tetap menghormati adat serta aturan hukum yang berlaku.
Ondofolo Dasim Kleubeuw, Harly Ohei, mengimbau masyarakat Kabupaten Jayapura maupun Kota Jayapura agar tidak mengikuti kegiatan yang berpotensi menimbulkan gangguan keamanan.
Ia meminta masyarakat tidak terjebak dalam aksi yang pada akhirnya justru dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain.
“Jangan sampai ujung-ujungnya terjadi tindakan anarkis yang justru merugikan kita semua,” ujar Harly.
Menurutnya, masyarakat harus mengutamakan persatuan dan menjaga Papua tetap dalam suasana aman dan damai.
“Tujuan kita satu, bagaimana membawa Negara Republik Indonesia ini dengan damai di Tanah Papua. Kita harapkan Papua tetap dalam keadaan damai,” katanya.
Imbauan serupa disampaikan Ondofolo Kampung Asei Besar, Marthen Ohee.
Ia mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terlibat dalam kegiatan yang tidak jelas manfaatnya dan berpotensi menimbulkan persoalan hukum maupun keamanan.
Marthen meminta warga lebih fokus menjalankan aktivitas sehari-hari, bekerja dan memenuhi kebutuhan keluarga.
“Lebih baik urus diri, urus istri dan anak, serta mencari makan daripada mengikuti kegiatan yang tidak menguntungkan,” tegasnya.
Marthen juga menegaskan bahwa masyarakat adat tidak mendukung tindakan yang mengarah pada kerusuhan maupun anarkisme.
Menurutnya, penyebutan nama masyarakat Orang Asli Papua tidak dapat dijadikan alasan untuk membenarkan tindakan yang merugikan masyarakat.
“Dari adat kami mengatakan tidak. Itu hanya keinginan sekelompok orang. Kami masyarakat adat tidak pernah memberikan dukungan untuk tindakan-tindakan seperti itu,” ujarnya.
Aspirasi Boleh Disampaikan, Tetapi Harus Beradab
Sementara itu, Ondofolo Kampung Adat Homfolo, Anderson Tokoro, menegaskan masyarakat tetap memiliki hak menyampaikan aspirasi.
Namun, ia meminta setiap aksi dilakukan dengan mengedepankan etika, sopan santun dan penghormatan terhadap masyarakat adat sebagai pemilik wilayah.
“Kami tidak memusuhi siapa-siapa. Kami hanya meminta agar siapa pun yang tinggal di dalam rumah kami harus menghargai kami sebagai pemilik rumah ini,” kata Anderson.
Ia menegaskan aksi penyampaian pendapat tidak boleh berubah menjadi tindakan yang mengganggu ketenteraman masyarakat.
“Kalau boleh berdemonstrasi, tetapi demonstrasi yang beretika dan punya adab. Jangan ada sikap anarkis yang ditunjukkan di atas tanah ini,” tegasnya.
Anderson juga mengajak seluruh masyarakat menjaga semangat persatuan di tengah keberagaman Papua.
“Bhinneka Tunggal Ika adalah semboyan kita dan Merah Putih adalah lambang bendera kita. Kita harus memiliki jiwa NKRI yang sejati,” ujarnya.
Ketua Peradilan Adat Dewan Adat Sentani yang juga Ondofolo Kampung Puay, Yacob Fiobetauw, mengajak seluruh masyarakat yang tinggal di Kabupaten Jayapura untuk bersama-sama menjaga situasi keamanan.
Ia menyebut Papua sebagai rumah bersama yang harus dijaga tanpa membedakan suku, agama maupun asal daerah.
“Budaya kami adalah rumah kami, rumah kita bersama. Karena itu, mari saling menjaga perdamaian agar masyarakat kita dapat menyambut perayaan Republik Indonesia dengan penuh sukacita,” ujar Yacob.
Yacob juga meminta masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh isu maupun ajakan yang dapat memecah persatuan dan mengganggu keamanan.
Ia berharap momentum HUT ke-81 RI menjadi kesempatan memperkuat persaudaraan dan kebersamaan masyarakat di Tanah Papua.
“Mari kita merayakan 81 tahun Negara Republik Indonesia dengan penuh sukacita agar kita bersama-sama hidup aman, tenteram dan damai di atas tanah Papua yang kita cintai ini,” pungkasnya.
Sejumlah tokoh adat yang hadir dalam konferensi pers tersebut di antaranya Anderson Tokoro, Yacob Fiobetauw, Marthen Ohee, Harly Ohei, Nikodemus Yaboysembut, Bernard Felle, Jhon Fiktor Monim, Septinus Ibo, Korneles Doyapo, Livin Ibo, Agus Sokoy dan Arlius Wally.
Para tokoh adat berharap masyarakat tidak mudah terprovokasi dan tetap menjaga ketertiban. Mereka menekankan bahwa perbedaan pandangan maupun aspirasi seharusnya disampaikan melalui cara-cara damai, sehingga Kabupaten Jayapura tetap menjadi ruang hidup bersama yang aman dan nyaman bagi seluruh masyarakat. (Cornelia)






















































































