JAYAPURA, HarianTerbaruPapua.com – Jaringan Survei Independent (JSI) merilis hasil survei terbarunya menjelang Pemungutan Suara Ulang (PSU) Pemilihan Gubernur (Pilgub) Papua 2025. Hasil survei menunjukkan tingginya partisipasi pemilih dan persaingan ketat antara dua pasangan calon (paslon) yang bertarung, yakni Benhur Tomi Mano–Constant Karma (Paslon 01) dan Matius Fakhiri–Aryoko Rumaropen (Paslon 02).
Dalam survei yang dilakukan pada 20–29 Juni 2025 di enam wilayah pelaksanaan PSU Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, Keerom, Sarmi, Kepulauan Yapen, dan Biak Numfor Paslon 02 unggul tipis atas Paslon 01.
“Pasangan Matius Fakhiri dan Aryoko Rumaropen memperoleh dukungan sebesar 49,5%, unggul tipis dari pasangan Benhur Tomi Mano dan Constant Karma yang memperoleh 44,6%,” ujar Direktur JSI, Harry Khairul Anwar, dalam konferensi pers di Jayapura, Kamis (31/7/2025).
Sebanyak 5,9% responden menyatakan belum menentukan pilihan atau tidak menjawab (undecided voters), sehingga pertarungan dinilai masih sangat terbuka hingga hari pencoblosan yang dijadwalkan pada 6 Agustus 2025 mendatang.
Survei JSI juga mengungkapkan tingkat antusiasme masyarakat yang cukup tinggi terhadap pelaksanaan PSU Pilgub Papua 2025. Sekitar 70% responden menyatakan akan datang ke tempat pemungutan suara (TPS), sedangkan 30% lainnya masih ragu atau menyatakan tidak akan memilih.
“Angka partisipasi ini menunjukkan adanya harapan terhadap proses demokrasi, namun sekaligus menjadi sinyal bagi penyelenggara dan pemangku kepentingan untuk terus meningkatkan sosialisasi, terutama di wilayah dengan potensi golput tinggi,” kata Harry.
JSI juga memotret persepsi publik terhadap kedua pasangan calon. Paslon 01 Benhur-Contant dinilai unggul dari sisi pengalaman panjang dalam birokrasi dan pemerintahan. Namun, muncul sejumlah kekhawatiran terkait kondisi kesehatan dan usia wakil gubernur, serta pernyataan kontroversial yang dinilai rasis terhadap lawan politik.

Di sisi lain, Paslon 02 Matius–Aryoko memperoleh penilaian positif atas komitmen mereka dalam memperjuangkan hak masyarakat adat, penguatan peran aparatur sipil negara (ASN) dari kalangan anak asli Papua, serta gagasan pemerintahan yang bersih dan transparan.
Meski begitu, pasangan ini tidak lepas dari tantangan elektabilitas, di antaranya isu suku dan agama, status mualaf calon wakil gubernur, serta latar belakang kepolisian calon gubernur yang sempat menimbulkan kekhawatiran akan potensi pendekatan keamanan dalam pemerintahan.
Survei juga menggambarkan tingkat keteguhan pilihan pemilih. Sebanyak 87% responden menyatakan tidak akan mengubah pilihan mereka meskipun dihadapkan pada praktik politik uang. Hanya 13% yang mengaku bisa terpengaruh oleh hal tersebut.
“Angka ini cukup menggembirakan karena menunjukkan kematangan pemilih dalam menentukan pilihan secara rasional dan bertanggung jawab,” ujar Harry.
Harry menegaskan bahwa survei JSI dilakukan secara independen, menggunakan metode multistage random sampling dengan margin of error sebesar ±2,5% dan tingkat kepercayaan 95%. Total responden yang dilibatkan sebanyak 1.589 orang yang tersebar secara proporsional di enam wilayah PSU.
“Hasil ini kami sajikan untuk memberikan gambaran objektif terhadap dinamika elektoral di Papua, serta menjadi referensi bagi publik, media, dan para pemangku kebijakan dalam menyongsong PSU yang demokratis dan damai,” pungkasnya.
PSU Pilgub Papua 2025 dilaksanakan sebagai tindak lanjut dari putusan Mahkamah Konstitusi yang memerintahkan pemungutan suara ulang di beberapa wilayah akibat sengketa hasil Pilgub sebelumnya. Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Papua bersama Bawaslu dan aparat keamanan tengah mempersiapkan tahapan akhir menjelang hari pencoblosan.
(Redaksi – Harian Terbaru Papua)

























































































