JAYAPURA, HarianTerbaruPapua.com – Fahmil Al-Qur’an menjadi salah satu cabang yang diperlombakan pada Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) XXXI Tingkat Provinsi Papua. Perlombaan yang menguji pemahaman kandungan Al-Qur’an, wawasan keislaman, serta kemampuan menjawab soal secara cepat dan tepat ini dipusatkan di Aula Insan Cendekia, Sentani, Kabupaten Jayapura.
Majelis Musabaqah Fahmil Al-Qur’an dipimpin A. Arif Rofiki, selaku Ketua Majelis yang sekaligus bertindak sebagai penanya bidang bahasa Arab. Ia didampingi Lalu Suhirman, sebagai penanya bidang bahasa Inggris dan Makmur Nur, sebagai penanya bidang lagu. Pelaksanaan musabaqah juga didukung Gayati, sebagai sekretaris, Mukti Rochim, sebagai panitera, serta Andi Muh. Maulidin, sebagai petugas teknologi informasi (IT).
Berdasarkan jadwal pelaksanaan MTQ XXXI Provinsi Papua, babak penyisihan Musabaqah Fahmil Al-Qur’an digelar pada Rabu (15/7/2026) pukul 08.00–12.00 WIT di Aula Insan Cendekia. Pada hari pertama, tampil enam regu peserta yang terdiri atas tiga regu putra dengan nomor tampil FQ.02, FQ.04, dan FQ.06, serta tiga regu putri dengan nomor tampil FQ.01, FQ.03, dan FQ.05.
Dalam cabang Musabaqah Fahmil Al-Qur’an, peserta dituntut tidak hanya memiliki pemahaman terhadap isi Al-Qur’an, tetapi juga mampu bekerja sama dalam regu untuk menjawab berbagai pertanyaan yang disampaikan dewan hakim. Penilaian dilakukan berdasarkan ketepatan jawaban pada materi yang mencakup bahasa Arab, bahasa Inggris, dan lagu sesuai ketentuan musabaqah.
Arif Rofiki menjelaskan bahwa kompetensi yang diukur dalam cabang Musabaqah Fahmil Al-Qur’an tidak hanya terbatas pada penguasaan materi Al-Qur’an, tetapi juga mencakup kemampuan berpikir, wawasan keislaman, hingga wawasan kebangsaan.
“Jadi kompetensi utama yang diuji itu yang pertama pemahaman Al-Qur’an dan hadis. Di dalamnya soal itu terdiri atas hafalan, terjemah, pun juga memahami kandungan ayat serta hadis. Yang kedua, wawasan keislaman. Di dalamnya, tentang ilmu fikih, sejarah kebudayaan Islam, teologi Islam, ulumul Qur’an, dan ulumul hadis. Yang ketiga, kemampuan berbahasa asing. Soal di dalamnya itu biasanya tentang menerjemahkan ayat Al-Qur’an dalam bahasa Inggris ataupun juga teks keagamaan dalam bahasa Arab. Terus, yang keempat, soal tentang ketepatan menghitung. Soal-soalnya biasanya tentang faraidh dan sistem hitungan zakat. Yang kelima, tentang wawasan kebangsaan. Yang di dalamnya itu soal berkaitan dengan moderasi beragama dan juga tata peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan keagamaan,” jelasnya.
Ia menambahkan, penguasaan bahasa Arab dan bahasa Inggris menjadi bagian penting dalam Musabaqah Fahmil Al-Qur’an karena kedua bahasa tersebut merupakan pintu untuk membuka khazanah keilmuan Islam sekaligus menjadi sarana komunikasi di tingkat global. Menurutnya, kemampuan tersebut tidak hanya berguna selama perlombaan, tetapi juga menjadi bekal peserta dalam memperdalam ilmu agama.
“Nah, secara praktis memang ada beberapa soal dalam Musabaqah Fahmil Al-Qur’an itu yang berkaitan dengan akurasi terjemah. Peserta itu diuji untuk menerjemahkan ayat atau kalimat sesuai dengan tata bahasa,” ujarnya.
Rofiki mengakui masih terdapat sejumlah tantangan selama pelaksanaan babak penyisihan. Selain tingkat kesulitan soal yang lebih tinggi dibandingkan perlombaan tingkat kabupaten/kota, panitia juga menghadapi kendala teknis pada sistem audio serta belum meratanya pembinaan cabang Fahmil Al-Qur’an di daerah.
“Tantangan terbesar yang kami lihat di lapangan itu adalah yang pertama, tingkat kesulitan materi atau soal. Karena soal yang diberikan pada peserta hari ini itu berasal dari LPTQ Pusat. Sebenarnya bobotnya lebih dibandingkan soal yang mereka dapatkan saat lomba tingkat kabupaten atau kota. Yang kedua, kesiapan teknis sistem. Tadi ada di tengah-tengah lomba itu beberapa kendala teknis, seperti pada sistem audio atau mikrofon yang tadi beberapa kali kurang responsif. Sehingga ini menjadi tantangan yang mempengaruhi kelancaran. Yang ketiga, keterbatasan pembinaan daerah. Nah ini menjadi PR kita bersama. Dari semua kabupaten kota yang ada di Provinsi Papua, itu hanya ada tiga kabupaten dan kota yang mengirimkan delegasinya untuk lomba Fahmil Qur’an. Nah ini menjadi PR bagi LPTQ di tingkat daerah, saya pikir, biar ke depannya itu diperbaiki sehingga kemampuan peserta bisa merata antara satu kabupaten dengan kabupaten yang lain,” ungkapnya.
Menurut Rofiki, keberhasilan dalam cabang Musabaqah Fahmil Al-Qur’an juga ditentukan oleh kemampuan peserta bekerja sama dalam satu regu. Selain menguasai materi, setiap anggota harus mampu berkomunikasi dan berbagi peran dengan baik ketika menjawab pertanyaan.
“Yang tidak kalah penting saat di arena, kemampuan yang harus dimiliki itu yang berikutnya adalah komunikasi dan teamwork dalam satu workgroup itu. Pembagian peran yang jelas siapa juru bicaranya. Dan dia harus punya kemampuan diskusi dengan pendamping dalam satu grup tersebut sebelum menjawab,” jelasnya.
Melalui cabang Fahmil Al-Qur’an, lanjut Rofiki, generasi muda diharapkan tidak hanya mampu membaca Al-Qur’an, tetapi juga terdorong memahami kandungannya secara lebih mendalam melalui berbagai disiplin ilmu keislaman.
“Jadi melalui cabang Fahmil Qur’an ini, generasi muda diajak untuk tidak sekadar membaca Al-Qur’an. Namun juga menggali pemahaman yang mendalam tentang Al-Qur’an. Di dalamnya memiliki ilmu tafsir dan lain sebagainya. Jadi cabang ini bisa membuktikan bahwa ternyata mempelajari Islam itu seru, dinamis dan juga relevan,” tuturnya.
Ia berharap pembinaan cabang Fahmil Al-Qur’an dapat diperluas hingga seluruh kabupaten dan kota di Papua agar semakin banyak daerah yang mampu mengirimkan peserta serta melahirkan prestasi di tingkat nasional.
“Harapan kami ke depannya, yang pertama perlu pemerataan pembinaan. Seperti disampaikan, dari sekian banyak kabupaten kota hanya tiga yang mengirimkan delegasinya di Musabaqah Fahmil Al-Qur’an tahun ini. Sehingga ini bisa menjadi PR bagi LPTQ, baik provinsi maupun kabupaten, untuk bisa lebih memperluas pembinaan hingga ke daerah-daerah. Yang berikutnya, siapa pun nanti juaranya, kami berharap tetap ada proses pembinaan yang dapat meningkatkan kualitas mereka sehingga mereka nanti bisa bersaing di tingkat nasional dan mencetak prestasi tingkat nasional yang membanggakan provinsi,” pungkasnya. (Rilis)

























































































