JAYAPURA, HarianTerbaruPapua.com – Cabang Musabaqah Karya Tulis Ilmiah Al-Qur’an (KTIQ) termasuk cabang yang diperlombakan pada Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) XXXI Tingkat Provinsi Papua. Babak penyisihan berlangsung Rabu (15/7/2026) pukul 08.00–12.00 WIT di Ruang Rapat ITBKPP, Sentani, Kabupaten Jayapura. Pada hari pertama, cabang KTIQ diikuti sembilan peserta, terdiri atas dua peserta putra serta tujuh peserta putri.
Majelis Musabaqah Karya Tulis Ilmiah Al-Qur’an (KTIQ) dipimpin Hasrudin Dute, selaku Ketua Majelis yang merangkap penilai bidang bobot materi. Ia didampingi Subandriyo, pada bidang bobot materi; Dhanu Priyo Widodo, dan Ratnawati, pada bidang kaidah dan gaya bahasa; serta Amri, dan Sakaruddin, pada bidang logika dan organisasi pesan. Pelaksanaan penilaian turut didukung, Muhamad Ali, sebagai sekretaris dan Muhammad Gilang Ramadhan sebagai panitera untuk memastikan seluruh proses musabaqah berjalan tertib, objektif, dan akurat.
Ketua Majelis KTIQ, Hasrudin Dute, menjelaskan bahwa penilaian karya tulis ilmiah mengacu pada tiga indikator utama yang menjadi standar dalam menentukan kualitas karya peserta.
“Indikator penilaian yang utama di dalam Musabaqah Karya Tulis Ilmiah Al-Qur’an ini mengacu pada tiga indikator, yaitu penilaian bobot materi, penilaian kaidah dan gaya bahasa, serta penilaian logika dan organisasi pesan. Ketiga penilaian ini menjadi indikator di dalam menilai karya tulis ilmiah Al-Qur’an. Pada penilaian ini akan dilihat kemampuan peserta di dalam mengurai dan menganalisis ayat yang terkait dengan tema yang diangkat, sehingga analisis tersebut menjadi tataran yang bukan saja pada teori namun dapat diaplikasikan di dalam keseharian,” ujarnya.
Menurut Hasrudin, orisinalitas karya peserta menjadi perhatian utama dewan hakim. Selain memanfaatkan aplikasi pendeteksi plagiarisme, dewan hakim juga menilai kualitas tulisan berdasarkan ketepatan penyajian data dan fakta, penggunaan bahasa yang baku, serta sistematika penulisan ilmiah.
“Ada dua cara untuk memastikan karya itu benar ilmiah dan orisinal. Yang pertama menggunakan robot cek plagiat, yang kedua dengan melihat tulisan peserta pada data dan fakta yang diungkap, bahasa yang baku dan jelas, teratur dan sistematis,” katanya.
Ia mengungkapkan, kelemahan yang paling sering ditemukan pada peserta adalah minimnya referensi yang digunakan dalam penyusunan makalah. Selain itu, sebagian peserta juga masih mengalami kesulitan menulis ayat Al-Qur’an berbahasa Arab secara manual, padahal kemampuan tersebut menjadi salah satu unsur penilaian.
“Peserta kurang mempersiapkan referensi yang cukup untuk menulis makalah. Ada yang hanya membawa dua buku dan tiga artikel jurnal pada perlombaan tingkat provinsi. Padahal lomba menulis makalah itu berdasarkan pada kekayaan referensi yang dibawa, bukan hanya mampu menulis namun juga buku-buku yang dipakai untuk menulis. Kurang mampu menulis bahasa Arab dengan tangan, sehingga butuh sampai 30 menit untuk menulis satu atau dua baris ayat, padahal menulis ayat bagian dari penilaian dewan hakim,” jelasnya.
Hasrudin menilai tema pelestarian lingkungan dan kerukunan umat beragama yang diangkat dalam KTIQ tahun ini sangat relevan dengan kondisi Papua maupun Indonesia secara umum. Menurutnya, kedua tema tersebut mendorong peserta mengaitkan nilai-nilai Al-Qur’an dengan persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.
“Dua tema ini menarik untuk dikaji, yang pertama pelestarian lingkungan dan kedua kerukunan umat beragama. Dua tema ini relevan dengan keadaan di Papua maupun Indonesia. Tema pelestarian lingkungan untuk menghindarkan diri dari sifat merusak seperti illegal logging dan illegal fishing. Kemudian tema kerukunan umat beragama, di Papua terdiri dari beragam suku dan beragam agama. Potensi konfliknya sangat terasa, namun hal tersebut dapat dicegah dengan saling menghormati perbedaan,” ungkapnya.
Ia menambahkan, tantangan terbesar bagi dewan hakim terletak pada penilaian terhadap kemampuan peserta dalam menafsirkan ayat Al-Qur’an sesuai tema yang diangkat, termasuk mengaitkannya dengan asbabun nuzul dan kondisi daerah.
“Tantangan terbesarnya pada penilaian tafsir ayat, uraian ayat yang mengarah pada tema dan juga asbab nuzul dari ayat tersebut yang dapat dilihat pada kondisi di daerah. Dewan hakim tentu telah memiliki bekal untuk menilai, namun alangkah baiknya bila dewan hakim juga dapat mengonfirmasi tafsiran ayat yang disebut peserta dengan membuka kitab tafsir yang dimiliki. Dengan adanya aplikasi tafsir online sebenarnya dapat mengurangi kekhawatiran tersebut, hanya saja masih berbayar dan dewan hakim belum sampai pada tahap tersebut,” tuturnya.
Hasrudin menilai budaya riset di kalangan generasi muda dapat tumbuh apabila rasa ingin tahu terus dipupuk melalui kebiasaan bertanya dan mencari jawaban secara ilmiah.
“Rasa ingin tahu dan bertanya mengapa itu terjadi dapat menumbuhkan budaya meneliti di kalangan generasi muda,” katanya.
Menurutnya, karya tulis yang layak menjadi juara bukan hanya relevan dengan tema yang diangkat, tetapi juga mampu dipertanggungjawabkan saat dipresentasikan di hadapan dewan hakim.
“Menulis sesuai dengan tema dan judul yang diangkat relevan dengan kondisi saat ini. Di samping itu, dapat mempertanggungjawabkan tulisannya pada saat presentasi di depan dewan hakim. Terkadang tulisannya bagus dan rapi, namun tidak mampu mempresentasikan tulisannya. Terkadang pula bagus di presentasi, namun tulisannya belum mengikuti kaidah ilmiah,” ujarnya.
Di akhir wawancara, Hasrudin berpesan agar peserta terus membiasakan budaya membaca dan menulis sebagai bagian dari upaya mendalami kandungan Al-Qur’an. Ia meyakini karya tulis yang lahir dari pemahaman terhadap Al-Qur’an akan menjadi amal jariyah yang manfaatnya terus mengalir.
“Membiasakan membaca dari apa yang ditulis, dan membiasakan menulis apa yang dibaca. Dengan banyak membaca maka akan mudah untuk menulis, akan sulit menulis kalau tidak terbiasa membaca. Pahami dan dalami makna yang terkandung di dalam Al-Qur’an. Teruslah menulis kandungan-kandungan Al-Qur’an, karena tulisan itu dapat menjadi amal jariyah kita meskipun kita telah berganti alam,” pungkasnya. (Rilis)

























































































