SENTANI, HarianTerbaruPapua.com – Pemerintah Provinsi Papua memastikan kondisi para korban dugaan keracunan usai mengonsumsi Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Distrik Depapre, Kabupaten Jayapura, terus menunjukkan perkembangan positif. Memasuki hari ketiga penanganan, tidak ada lagi penambahan kasus baru yang tercatat hingga Kamis (6/8/2026).
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Papua, Beeri Wopari, mengatakan fase penanganan saat ini telah memasuki masa pemulihan. Menurutnya, kurva kasus akut mengalami penurunan signifikan dibandingkan hari pertama kejadian.
“Memasuki hari ketiga, kondisi pasien secara umum sudah mulai membaik. Kasus akut sudah jauh berkurang dibanding hari pertama, dan hingga 6 Agustus tidak ada lagi penambahan pasien baru,” ujar Wopari.
Ia menjelaskan, proses pemulihan diperkirakan akan terus berlangsung hingga hari ketiga, keempat, dan kelima pascakejadian. Sebagian besar pasien menunjukkan perkembangan yang baik, termasuk saat dirinya mendampingi Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) meninjau pasien di Depapre pada Kamis pagi.
Meski demikian, Dinas Kesehatan tetap melakukan pemantauan intensif terhadap pasien yang masih menjalani perawatan. Pengawasan dilakukan untuk memastikan kondisi kesehatan mereka benar-benar pulih, termasuk pemantauan konsumsi obat dan kecukupan cairan tubuh.
Wopari mengingatkan bahwa gejala akibat makanan yang diduga terkontaminasi masih berpotensi muncul kembali selama masa pemulihan. Karena itu, masyarakat diminta segera kembali ke fasilitas kesehatan apabila mengalami keluhan seperti nyeri perut hebat, muntah, atau gangguan pencernaan lainnya.
“Pasien tetap harus dipantau. Bila muncul kembali tanda-tanda seperti sakit perut yang hebat atau gangguan pencernaan, segera kembali ke rumah sakit atau puskesmas untuk mendapatkan penanganan,” katanya.
Dalam peristiwa tersebut, Dinas Kesehatan memastikan tidak ada korban meninggal dunia. Namun, beberapa pasien sempat memerlukan penanganan khusus karena mengalami kejang perut akibat dugaan paparan racun yang cukup berat sehingga harus menjadi prioritas rujukan ke rumah sakit.
“Syukurlah tidak ada kasus yang menyebabkan kematian. Memang ada beberapa pasien yang mengalami kejang perut sehingga membutuhkan penanganan intensif, dan itu menjadi prioritas rujukan,” jelasnya.
Berdasarkan data kumulatif hingga 6 Agustus 2026, jumlah warga yang terdampak dugaan keracunan MBG mencapai 527 orang. Korban berasal dari berbagai kelompok, mulai dari balita, peserta PAUD, siswa SD, SMP, SMA, guru, hingga kader Posyandu.
Pemerintah bersama Dinas Kesehatan Provinsi Papua dan seluruh fasilitas pelayanan kesehatan masih terus melakukan pemantauan terhadap para korban sambil menunggu hasil pemeriksaan laboratorium guna memastikan penyebab pasti insiden tersebut. (Cornelia)



























































































