JAYAPURA, HarianTerbaruPapua.com – Pemerintah Kabupaten Jayapura mencatat sebanyak 543 orang terdampak dugaan keracunan setelah mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) yang didistribusikan di wilayah Distrik Depapre dan sekitarnya.
Data terbaru tersebut disampaikan Bupati Jayapura Yunus Wonda saat meninjau Posko Penanganan Pasien di Distrik Depapre, Sabtu (8/8/2026). Dalam kunjungan itu, Bupati didampingi Kapolres Jayapura AKBP Dionisius VDP Helan, Dandim 1701/Jayapura Kolonel Inf Taufik Hidayat, Plt Sekda Kabupaten Jayapura Yusuf Yambeyapdi, serta Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jayapura Anton Mote.
Dari total 543 orang yang tercatat terdampak, sebanyak 402 orang telah dinyatakan sembuh, sedangkan 120 orang masih menjalani perawatan. Pemerintah daerah memastikan hingga saat ini tidak ada korban meninggal dunia.
Komposisi korban terdiri atas 223 laki-laki atau sekitar 41 persen dan 320 perempuan atau 59 persen. Dari jumlah tersebut, terdapat tiga orang ibu hamil.
Pemerintah Kabupaten Jayapura mencatat kasus tersebut tersebar di sejumlah kampung, yakni Kendate, Tablasupa, Dormena, Waiya, Wambena, Amai, Tablanusu, Yewena, Maribu, Yepase, Yongsu Desoyo, Denokisi, Entiyebo, dan Edokisi.
Wilayah terdampak tersebut berada di Distrik Depapre, Yokari, dan Ravenirara.
Bupati Yunus Wonda mengatakan, pendataan dilakukan sejak Selasa (4/8/2026) hingga Jumat (7/8/2026). Pemerintah bersama TNI, Polri, gereja, tenaga kesehatan, dan berbagai elemen masyarakat terus melakukan penanganan terhadap warga yang mengalami keluhan kesehatan.
“Jadi kita terus mengawasi sampai tanggal 7 Agustus 2026. Ada yang sudah pulang lalu muncul gejala dan kembali lagi, yakni orang dewasa dan dua bayi,” kata Yunus Wonda.
Sejak dugaan keracunan dilaporkan, pasien ditangani di sejumlah fasilitas kesehatan di Kabupaten Jayapura dan Kota Jayapura.
Pemerintah mencatat pasien mendapatkan perawatan di UPTD Puskesmas Depapre, Puskesmas Sentani, Puskesmas Waibu, Puskesmas Komba Waliyauw, Puskesmas Dosay, Rumah Sakit Dian Harapan, Rumah Sakit Marthen Indey, RSUD Jayapura, RSUD Yowari, RSUP Jayapura, hingga klinik.
Dari total korban yang terdata, kelompok usia 10–14 tahun menjadi kelompok yang paling banyak terdampak, yakni 117 kasus. Kemudian usia 5–9 tahun sebanyak 107 kasus, usia 1–4 tahun sebanyak 21 kasus, dan kelompok usia 15–69 tahun sebanyak 15 kasus.
Yunus menjelaskan, sejumlah anak mulai mengalami keluhan kesehatan setelah menyantap makanan sekitar pukul 12.00 WIT. Setelah kembali ke rumah, sebagian dari mereka mulai merasakan gejala seperti sakit perut, mual, muntah, sakit kepala, hingga tubuh lemas.
“Reaksi dari makanan yang dimakan ini terjadi setelah anak-anak makan sekitar pukul 12.00 WIT, kemudian mereka pulang ke rumah,” ujarnya.
Peristiwa tersebut pertama kali mencuat pada Selasa (4/8/2026) malam. Puluhan pelajar dari sejumlah kampung di Distrik Depapre dilarikan ke Puskesmas Depapre setelah mengalami gangguan kesehatan yang diduga berkaitan dengan konsumsi makanan MBG.
Situasi di Puskesmas Depapre saat itu sempat dipenuhi orang tua dan warga yang datang untuk memastikan kondisi anak-anak mereka.
Sejumlah pelajar terlihat lemah sambil memegangi perut. Sebagian lainnya mengalami muntah dan mendapatkan tindakan medis, termasuk pemasangan infus.
Pada awal kejadian, Kepala Distrik Depapre Alva Tamaela menyebut sekitar 11 anak menjalani perawatan di Puskesmas Depapre.
Para pasien tersebut berasal dari Kampung Wanya, Tablasupa, Nusu, Dormena, Kendate, serta Yepase. Namun, jumlah korban kemudian terus bertambah seiring dilakukannya pendataan dan pemantauan di sejumlah kampung.
Pada fase awal, pasien terdiri atas dua anak PAUD, dua siswa SD, lima siswa SMP, seorang guru dari Kampung Kendate, serta satu anak dari Kampung Yepase.
Perkembangan jumlah kasus dari belasan pasien pada hari pertama hingga mencapai 543 orang dalam beberapa hari menunjukkan bahwa penanganan dugaan keracunan MBG di wilayah pesisir Kabupaten Jayapura menjadi perhatian serius pemerintah daerah.
Bupati Yunus Wonda menegaskan pemerintah daerah tidak hanya fokus pada pasien yang masih menjalani perawatan, tetapi juga melakukan pemantauan terhadap warga yang telah diperbolehkan pulang.
Menurutnya, kondisi pasien terus dipantau untuk mengantisipasi munculnya kembali gejala setelah pasien kembali ke rumah.
Pemerintah Kabupaten Jayapura juga terus berkoordinasi dengan TNI dan Polri, tenaga kesehatan, pihak gereja, serta berbagai elemen masyarakat untuk memastikan seluruh warga terdampak mendapatkan pelayanan.
Hingga Sabtu (8/8/2026), pemerintah memastikan tidak ada korban meninggal dunia dalam kasus dugaan keracunan tersebut.
Kasus ini kini menjadi perhatian serius karena jumlah warga yang terdampak terus didata dan pemerintah masih melakukan pemantauan serta penanganan medis terhadap pasien yang belum dinyatakan pulih. (Cornelia)



























































































